NEWS Berawal dari Coba-Coba, Dosen USK Raih PhD dan Jadi Asisten Dosen di...

Berawal dari Coba-Coba, Dosen USK Raih PhD dan Jadi Asisten Dosen di Rhode Island

Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (USK), Nani Safuni, saat menjalani studi doktoral (PhD) di College of Nursing, University of Rhode Island (URI), Amerika Serikat. Berawal dari coba-coba mengajukan aplikasi, ia berhasil meraih beasiswa penuh sekaligus dipercaya menjadi Teaching Assistant (TA). Foto: Ist

Analisaaceh.com | Mimpi melanjutkan studi doktoral (S3) ke luar negeri kerap kali dibayangi oleh tembok keraguan yang dibangun sendiri. Perasaan tidak percaya diri sempat merayap di benak Nani Safuni.

Padahal, menempuh pendidikan di luar negeri bukanlah hal baru; beberapa tahun silam, ia telah menyelesaikan Master of Nursing di Flinders University, Australia. Namun, bayang-bayang ketatnya iklim akademik di Amerika Serikat nyaris membuat Nani melewatkan kesempatan emas untuk terbang ke negeri Paman Sam.

Semua bermula ketika Nani dan beberapa sejawat dari Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (USK) mengikuti sosialisasi yang diinisiasi oleh kampus bekerja sama dengan University of Rhode Island (URI), Amerika Serikat, yang menghadirkan pembicara Brooke William Ross. Jujur saja, niat awal mereka datang sederhana: sekadar menguji kompetensi listening skill setelah sekian lama tidak bersentuhan dengan lingkungan berbahasa Inggris penuh.

Namun, alur kegiatan berubah ketika tim URI mengundang para dosen untuk mengikuti sesi lanjutan berupa pendampingan pengisian aplikasi demi mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). Lantaran proposal penelitian dan dokumen berbahasa Inggris belum siap di tempat, Nani memilih merampungkannya secara mandiri di rumah.

Beberapa minggu berselang, email dari international office URI masuk ke kotak masuknya, menyatakan bahwa ia diterima di College of Nursing URI. Di titik inilah drama keraguan itu dimulai.

Sebagai akademisi yang berpijak pada realitas, Nani berasumsi bahwa LoA dan ketersediaan dana adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Ia punya LoA, tetapi nol rupiah dana pribadi, nihil sokongan institusi, dan tanpa beasiswa negara.

Ketika pihak kampus terus mengirimkan surel lanjutan terkait panduan pengurusan visa, Nani memilih bungkam dan mengabaikannya. Pikirannya sederhana: mata uang kita jauh di bawah mereka, bagaimana mungkin nekat berangkat tanpa jaminan finansial?

Tiga bulan berlalu dalam rutinitas harian Nani sebagai dosen, istri, dan ibu dari dua anak. Hingga akhirnya, nuraninya bergolak. Nani berpikir, jika terus membiarkan surel itu tanpa respon, ia berpotensi menutup pintu rezeki dan kesempatan bagi orang lain di seluruh dunia yang mengincar kursi PhD di program tersebut.

Dengan mengucap bismillah, Nani membalas surel itu dengan sejujurnya: membeberkan bahwa ia tidak punya biaya sepeser pun, sekaligus menyampaikan terima kasih atas student ID yang telanjur diterbitkan.

Respons pihak URI sempat membuat Nani terpingkal sekaligus bingung. Mereka membalas, “Kalau Anda tidak punya biaya studi, mengapa tidak Anda katakan dengan jujur di awal?” Merasa tidak perlu memperpanjang perdebatan, Nani kembali mendiamkan surel tersebut.

Dua minggu kemudian, sebuah surel susulan mendarat kali ini ditembuskan langsung kepada calon profesor utamanya. Kabar itu mengubah segalanya. Pihak URI memutuskan untuk merangkul Nani sebagai mahasiswa baru, lengkap dengan tanggungan penuh biaya pendidikan dan asuransi kesehatan. Syaratnya satu: ia harus bersedia mengambil posisi sebagai Teaching Assistant (TA) atau asisten dosen di College of Nursing URI.

“Tentu saja saya terkejut dengan penawaran tersebut. Sejujurnya saya hanya iseng saja mengirim aplikasi beasiswa ke URI karena mengalami ‘jetlag’ studi yang lama,” kenangnya.

Saking tidak percayanya, Nani bahkan sempat menganggap tawaran mulia itu sebagai surel penipuan scam. Baru kemudian ia memahami bahwa skema yang ditawarkan adalah Assistance Scholarship; sebuah bentuk bantuan pendidikan yang sangat lumrah di Amerika Serikat.

Melalui skema ini, mahasiswa diwajibkan bekerja antara 10 hingga 30 jam per minggu, dan sebagai imbalannya, perguruan tinggi memberikan honor layak untuk menutupi seluruh biaya operasional seperti akomodasi, transportasi, buku, hingga kebutuhan hidup sehari-hari di Rhode Island.

“Saya membayangkan jika hari itu saya tidak melengkapi pengisian aplikasi, mungkin sampai saat ini saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di negeri Paman Sam,” ujar Nani merefleksikan perjalanan yang telah berjalan selama dua tahun ini.

Kini, di tengah kesibukan menjalani perkuliahan program PhD di College of Nursing URI, Nani menyadari satu hal penting. Kesempatan besar sering kali bersembunyi di balik ketidakyakinan kita sendiri. Kegigihan untuk mencoba, melangkah meski dihantam ragu, dan keterbukaan dalam berkomunikasi adalah kunci utama untuk menembus batas mimpi yang tadinya terasa mustahil digapai.

Artikulli paraprakMahasiswa KKN USK Edukasi Tas Siaga Bencana dan GERADAM Warga Cut Langien
Artikulli tjetërLGBT Jadi Persoalan Serius di Aceh, Terindikasi di Warkop hingga Fitness