NEWS DSI Aceh Perkuat Pendidikan Islam, Gubernur: Harus Adaptif dengan AI

DSI Aceh Perkuat Pendidikan Islam, Gubernur: Harus Adaptif dengan AI

Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh, Dr. Misran Fuadi, bersama jajaran Pengurus Wilayah Aceh Ikatan Guru dan Dosen Al-Washliyah (IGDA) dan sejumlah undangan berfoto bersama usai pelantikan pengurus serta Seminar Nasional di Aula DSI Aceh, Banda Aceh, Minggu (26/7/2026).

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Pemerintah Aceh melalui Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh memperkuat arah pengembangan pendidikan Islam agar mampu beradaptasi dengan perkembangan Artificial Intelligence (AI), tanpa meninggalkan syariat Islam, akhlak, serta kearifan lokal sebagai identitas masyarakat Aceh.

Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, melalui Kepala DSI Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., saat menghadiri pelantikan Pengurus Wilayah Aceh Ikatan Guru dan Dosen Al-Washliyah (IGDA), sekaligus pembukaan Seminar Nasional di Aula Dinas Syariat Islam Aceh, Minggu (26/7/2026).

Seminar bertema “Kurikulum Pendidikan Islam dan Tantangan Teknologi AI dalam Membentuk Generasi Emas dalam Perspektif Local Wisdom Keacehan” itu menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa transformasi teknologi harus diikuti dengan penguatan karakter dan nilai keislaman.

Dalam sambutan Gubernur Aceh yang dibacakan Misran Fuadi, Pemerintah Aceh memandang perkembangan AI sebagai peluang besar bagi peningkatan kualitas pendidikan. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pengetahuan, meningkatkan mutu pembelajaran, serta mendorong inovasi dan riset.

Namun, Gubernur Aceh menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat pendidikan kehilangan orientasi pada pembentukan manusia yang berkarakter. Penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan keimanan, akhlak, integritas, serta tanggung jawab dalam pemanfaatannya.

“Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga beriman, berakhlak mulia, berintegritas, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab,” ujar Misran membacakan sambutan Gubernur Aceh.

Sejalan dengan arah Pemerintah Aceh tersebut, DSI Aceh menilai pendidikan Islam harus mampu menjawab perubahan zaman. Kehadiran AI tidak cukup direspons hanya dengan meningkatkan kemampuan digital peserta didik, tetapi juga harus disertai pembentukan karakter agar teknologi digunakan untuk kemaslahatan.

Kepala DSI Aceh, Misran Fuadi, mengatakan Aceh memiliki fondasi yang kuat untuk membangun model pendidikan yang mampu menggabungkan kemajuan teknologi dengan nilai agama dan budaya. Penerapan syariat Islam serta kearifan lokal menjadi modal penting dalam mempersiapkan generasi Aceh menghadapi perubahan global.

Salah satunya tercermin melalui filosofi Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana. Nilai tersebut dinilai tetap relevan untuk diintegrasikan dalam pendidikan modern agar perkembangan teknologi tidak menjauhkan generasi muda dari identitas keacehan.

Karena itu, Pemerintah Aceh melalui DSI Aceh mendorong perguruan tinggi, sekolah, pesantren, organisasi profesi guru dan dosen, serta pemangku kepentingan pendidikan untuk memperkuat kolaborasi. Sinergi tersebut diperlukan untuk membangun ekosistem pendidikan Islam yang inovatif, berkualitas, dan adaptif terhadap perkembangan AI.

Pemerintah Aceh juga menaruh harapan terhadap kepengurusan baru IGDA Aceh untuk menjadi mitra strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru dan dosen, mengembangkan inovasi pembelajaran, serta memperkuat dakwah intelektual di tengah transformasi digital.

Misran menegaskan, DSI Aceh akan terus mengambil peran dalam mendorong pembangunan pendidikan yang responsif terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap berpijak pada syariat Islam. Menurutnya, kemampuan teknologi dan kualitas sumber daya manusia harus tumbuh bersama dengan penguatan moral.

“Penguasaan AI harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak, moral, dan nilai-nilai Islam. Aceh harus mampu melahirkan generasi yang cakap menghadapi kemajuan teknologi, namun tetap menjunjung tinggi syariat Islam, budaya, dan jati diri daerah,” tegas Misran.

Menurutnya, AI harus ditempatkan sebagai sarana untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan kemampuan generasi muda. Teknologi tidak boleh menggeser peran pendidikan dalam membentuk manusia yang memiliki nilai, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kehidupan sosial.

Melalui seminar nasional tersebut, DSI Aceh berharap lahir berbagai gagasan dan rekomendasi strategis yang dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Aceh dalam merumuskan arah pengembangan pendidikan Islam di tengah transformasi digital.

Gubernur Aceh juga mengajak seluruh elemen pendidikan untuk mengambil bagian dalam mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. Aceh diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul secara intelektual, menguasai teknologi dan mampu bersaing secara global, namun tetap memiliki karakter keislaman yang kuat.

Pemerintah Aceh melalui DSI Aceh berkomitmen menjadikan perkembangan teknologi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pada saat yang sama, syariat Islam, akhlak, serta kearifan lokal tetap menjadi fondasi dalam membentuk generasi Aceh yang unggul, berkarakter, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan masa depan. ***

Artikulli paraprakRumah Kos Terbakar di Banda Aceh, Api Merembet ke Bengkel Ban