Aceh dan Ruang Diskusi

Syafrizal, mahasiswa aktif di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (Foto/Ist)

Oleh : Syafrizal
Semakin berjalannya waktu semakin banyak orang kehilangan identitas, nilai-nilai yang menjadi konsep kehidupan leluhur kini mulai memudar di tengah masyarakat Aceh. Banyak hal yang membawa orang Aceh ke arah kebingungan ini, mulai dari konflik berkepanjangan dengan Belanda dan pemerintah pusat, perang saudara yang dikenal dengan perang cumbok, hingga musibah yang besar yang mengguncang sebagian besar wilayah Aceh.

Kita sebagai orang Aceh coba sesekali bertamasya ke masa lalu, melihat bagaimana kolektifnya orang tua kita terdahulu. Gotong royong menjadi budaya di tengah-tengah masyarakat, tempat umum seperti balei jaga, meunasah dan warung kopi meraka jadikan tempat bertukar pikiran. Selain budaya kolektif masyarakat Aceh dulu juga menjunjung tinggi yang namanya egaliter yaitu melihat tiap-tiap individu itu sederajat, tidak memandang tinggi karena jabatan dan harta benda yang dimiliki.

Sekarang budaya minum kupi di Aceh memang tumbuh subur bahkan menjadi tren di kalangan kawula muda, menurut penulis budaya ini jauh bergeser. Dulu warung kopi dijadikan tempat berdiskusi dan menjalin silaturrahmi, kini warung kopi hanya sebagai tempat kongkow-kongkow menghabiskan waktu, main game, bahkan menjadi tempat kita mencaci dan memfitnah saudara kita di luar sana.

Peran meunasah dan balai jaga kini hanya sebagai sarana pelengkap, peran meunasah tidak berfungsi lagi sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi sebagaimana dulunya, meunasah hanya ramai ketika weuk tumpok dana desa.

Ketika pergeseran kebiasaan ke arah negatif ini semakin melebur ke dalam masyarakat Aceh, dikhawatirkan masyarakat Aceh nantinya menjadi orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Perkembangan teknologi kedepannya merupakan tantanganan yang harus kita hadapi, namun ketika masyarakat sudah menjadi individualis tantangan ini semakin sulit kita hadapi.

Hadirnya ruang diskusi menjadi salah satu cara menghadapi berbagai tantangan kedepannya. Dengan diskusi opsi pemecahan masalah akan lebih beragam, keterikatan individu satu dengan dengan yang lain akan semakin meningkat, individu akan mudah menerima pemikiran dari sudut yang berbeda.

Realita sekarang umumnya diskusi yang dilaksanakan oleh institusi pendidikan dan lembaga-lembaga pemerintahan hanya sekedar pemenuhan program, sebagai panggung bagi politisi yang akan bertarung di kontestasi politik, dan yang paling parah adalah untuk menghambur-hamburkan uang rakyat.

Di dunia pendidikan yang menjadi ladang bagi generasi Aceh untuk mengarap ilmu dan membentuk karakter yang kokoh, seharusnya praktek pertukaran pikiran dan dialektika dikedepankan, tetapi dunia pendidikan kita sekarang menjadi tempat indoktrinasi, dimana murid-murid tidak diajarkan untuk mempertanyakan, dan sistem ujian yang akan menjadikan murid lebih individualis. Dunia pendidikan yang semacam ini akan melahirkan manusia yang mudah mengikuti perintah tanpa memikirkan sebab dan akibatnya, penyelesaian masalah menggunakan otot bukannya melalui musyawarah.

Seluruh elemen masyarakat Aceh khususnya pemuda yang menjadi penanggung jawab atas nasib Aceh di masa depan, jangan terlalu terlena dengan kejayaan masa lalu. Pemuda sebagai harapan masa depan harus mempunyai visi yang cemerlang, dengan kreatifitas dan kemandirian berpikir. Cobalah untuk lebih peka terhadap masalah sosial di masyarakat, rangkul semua elemen masyarakat untuk berdiskusi atas semua permasalahan yang ada.

Penulis adalah seorang mahasiswa aktif di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh