Plt Sekda Abdya, Amrizal saat mengukuhkan Ny Ratna Sari Dewi Safaruddin sebagai Bunda Literasi Abdya yang berlangsung di Aula Tgk Dikila Kantor Bapperida Abdya, Rabu (14/10/2026). Foto:Ahlul Zikri/Analisaaceh.com
Analisaaceh.com, Blangpidie | Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Barat Daya (Abdya), Amrizal mengukuhkan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Ny. Ratna Sari Dewi Safaruddin sebagai Bunda Literasi Abdya periode 2026-2030. Prosesi pengukuhan tersebut berlangsung di Aula Tgk Dikila Kantor Bapperida Abdya, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan yang mengusung tema ‘Membentuk Generasi Abdya yang Sehat, Cerdas, dan Berkarakter Menuju Indonesia Emas 2045’ itu turut dihadiri Plt Sekda Abdya Amrizal, Ketua DPRK Abdya Roni Guswandi, Kepala BKPSDM Abdya Nur Afni dan tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Plt Sekda Abdya, Amrizal menyampaikan bahwa pengukuhan Bunda Literasi bukan sekedar seremoni, melainkan amanah untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun budaya literasi d tengah masyarakat.
“Atas nama pemerintah daerah, saya mengucapkan selamat kepada Bunda Literasi kabupaten Abdya periode 2026-2030. Amanah ini merupakan tanggung jawab untuk ikut membangun masyarakat yang lebih berpengetahuan, terbuka terhadap perubahan, dan memiliki kemampuan menentukan masa depan yang lebih baik,” ujar Amrizal.
Ia menjelaskan bahwa makna literasi saat ini sudah berkembang sangat luas, tidak lagi terbatas di ruang kelas, buku cetak atau perpustakaan. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengambil pelajaran dari pengalaman, menilai sesuatu secara bijak, serta memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup.
“Oleh karena itu, membangun budaya membaca tidak harus selalu dimulai dengan cara-cara yang besar. Akan tetapi, budaya literasi dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui kebiasaan orang tua membacakan cerita kepada anak, dukungan guru dalam mendorong rasa ingin tahu peserta didik, serta kebiasaan masyarakat untuk terus menambah pengetahuan,” ucapnya.
Menurut Amrizal, membaca tidak lagi dibatasi oleh tempat dan waktu, sebab dengan perkembangan teknologi saat ini semakin memudahkan masyarakat mengakses bahan bacaan. Melalui telepon genggam, masyarakat dapat membaca berita, buku elektronik, artikel pengetahuan, dan berbagai materi pembelajaran tanpa terbatas ruang dan waktu
Namun, lanjut Amrizal, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan menjaring informasi agar masyarakat tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan kabar yang belum tentu benar.
“Kemajuan teknologi harus disikapi secara bijak. Di tengah banyaknya informasi yang beredar, kita dituntut untuk lebih cermat membedakan fakta dan kabar yang belum tentu benar. Yang ingin kita bangun bukan sekadar masyarakat yang banyak membaca, melainkan masyarakat yang mampu memahami isi bacaan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” terang Amrizal.
Lebih lanjut, kata Amrizal, perkembangan zaman harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperluas jangkauan literasi. Buku cetak tetap penting, perpustakaan tetap dibutuhkan, namun bacaan digital dan teknologi juga dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
Ia berharap Bunda Literasi dapat berperan aktif dalam mengembangkan gerakan literasi yang kreatif, mudah dijangkau, dan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok masyarakat, mulai dari anak-anak, pelajar, keluarga, hingga masyarakat umum.
Amrizal juga menekankan pentingnya pemerataan akses terhadap pengetahuan, baik bagi masyarakat yang tinggal di pusat kota maupun di gampong-gampong. Untuk mewujudkannya, pemerintah, lembaga pendidikan, perpustakaan, keluarga, dan pegiat literasi perlu memperkuat kolaborasi.
Menurutnya, generasi muda Abdya harus memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi sekaligus dibekali pengetahuan, karakter, dan kebijaksanaan. Proses belajar juga perlu terus berlangsung meskipun seseorang telah menyelesaikan pendidikan formal.
Karena itu, ia mengajak para pendidik, orang tua, Bunda Literasi, dan seluruh masyarakat Abdya menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang menyenangkan, bukan sebagai beban. Amrizal juga mengingatkan agar pengembangan literasi tetap berpijak pada nilai-nilai agama, budaya, dan kearifan lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat Abdya.
“Mari kita jadikan literasi bukan hanya sebagai sebuah program kerja, melainkan bagian dari cara hidup masyarakat yang terus belajar dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai-nilai agama, budaya, dan kearifan lokal yang menjadi jati diri kita,” pungkasnya.
Analisaaceh.com, Blangpidie | Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat Daya (Abdya) Roni Guswandi…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Safaruddin dijadwalkan menyampaikan ceramah dalam Safari…
Analisaaceh.com, Blangpidie | Pencairan gaji guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di…
Analisaaceh.com, Blangpidie | Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Ny Ratna Sari Dewi…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Seorang pria berinisial AD (43) diamankan setelah diduga menanam ganja di…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Banda Aceh memeriksa…
Komentar