
Analisaaceh.com, Blangpidie | Bupati Safaruddin resmi menutup seluruh rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), pada Minggu (26/4/2026) malam, di lapangan Pulau Kayu, Kecamatan Susoh Kabupaten setempat.
Pada kesempatan itu, Safaruddin menyampaikan bahwa tahun ini adalah tahun kedua pemerintahan Safaruddin-Zaman Akli.
“Tentu di tahun kedua ini, masyarakat sedang menunggu apa yang sudah kami janjikan dan kami sampaikan pada masa kampanye dulu, bisa segera diwujudkan,” kata Safaruddin.
Mulai tahun ini, sebut Safaruddin, ia bersama Zaman Akli akan menyiapkan terobosan-terobosan baru dalam kebijakan politiknya, untuk menuju tagline “Arah Baru Abdya Maju”.
Bagi Safaruddin, siapapun hari ini, dimanapun mereka berada, ia membutuhkan kolaborasi dan semangat kebersamaan.
“Sama seperti yang kita lakukan ketika penyelenggaraan hari jadi Abdya tahun ini, dengan salah satu kegiatannya adalah Meuseraya Toet Lemang,” ucapnya.
Terkadang, kata Safaruddin, masih ada juga yang nyinyir dan menyampaikan untuk apa dan apa dampak terhadap masyarakat Abdya dengan kegiatan Toet Lemang.
“Malam ini saya tegaskan, karena satu kegiatan Toet Lemang, Alhamdulillah harga pasar bisa meningkat, salah satunya harga bambu, yang selama ini Rp2.000 per potong, naik menjadi Rp7.000 hingga Rp8.000. Itu dirasakan oleh masyarakat kecil dampak manfaatnya,” terang Safaruddin.
Lebih lanjut, kata Safaruddin, belum lagi ditambah beras ketan, kelapa, dan penganan-penganan yang lainnya, ditambah pelaku UMKM, dan juga kegiatan ulang tahun lainnya yang sudah diselenggarakan.
“Lebih kurang perputaran uang dalam dua minggu ini saja, mencapai Rp3 hingga Rp4 miliar, di tengah-tengah masyarakat Abdya,” tuturnya.
Menurut Safaruddin, Meuseraya Toet Lemang ini memiliki filosofi kehidupan. Lemang tidak bisa dibakar dengan cara biasa-biasa saja. Takaran beras ketan dengan perpaduan santan, dibakar dengan api yang terukur, sehingga lemang akan gurih dan lezat untuk dinikmati.
“Inilah semangatnya, semua orang tergerak untuk melakukan Toet Leumang. Nilai gotong royong dan kebersamaan itu bisa terbentuk. Itulah nilai kebudayaan dan filosofi kehidupan yang kita dapatkan,” ujarnya.
Safaruddin menyebutkan bahwa sekarang Abdya tidak zamannya lagi berkompetisi lagi, tetapi sudah saatnya bersinergi untuk kolaborasi menuju kebaikan dan kemajuan Kabupaten Abdya.
“Bagi saya, kompetisi itu sudah selesai. Pilkada sudah selesai. Tidak ada lagi kompetisi, yang kita butuhkan adalah nilai kolaborasi dan solidaritas, agar Abdya ini bisa membangun ke arah yang lebih baik,” sebut Safaruddin.
Pada kesempatan itu, Safaruddin juga menyampaikan bahwa pemerintah membutuhkan dukungan dan kekuatan kebersamaan untuk mensukseskan perhelatan Musabaqah tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Aceh pada tahun 2027, dimana Kabupaten Abdya menjadi tuan rumah.
“Kami butuh kekuatan kebersamaan kita. Ini momentum kita. Menjadi tuan rumah MTQ sudah lama kita nantikan, yaitu sejak tahun 1984. Kala itu MTQ tingkat provinsi pernah ada di Abdya, yang dulunya masih Blangpidie, Kabupaten Aceh Selatan,” jelasnya.
Tahun 2027 mendatang, ucap Safaruddin, Abdya kembali menjadi tuan rumah perhelatan kegiatan akbar tersebut.
“Coba bayangkan, dari tahun 1984, sudah 42 tahun, kita tidak pernah merasakan menjadi tuan rumah MTQ. Maka saatnya di tahun 2027 mendatang kita buktikan bahwa kita akan memberikan yang terbaik dalam penyelenggaraan MTQ tingkat Aceh di Kabupaten yang kita cintai ini,” pungkas Safaruddin.



