Dua unit boat nelayan yang terjebak di Muara Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Abdya karena pendangkalan akibat sedimentasi yang terus berulang tak kunjung usai, Sabtu (19/9/2026). Foto:Ahlul Zikri/Analisaaceh.com
Analisaaceh.com, Blangpidie | Nelayan Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng, Aceh Barat Daya (Abdya), harus bertaruh keselamatan saat melaut. Pendangkalan muara akibat sedimentasi berulang membuat alur pelayaran menyempit dan membahayakan keselamatan perahu nelayan.
Kondisi alur yang dangkal berisiko menyebabkan perahu kandas, rusak, hingga terbalik dihantam gelombang. Permasalahan tumpukan pasir, lumpur, dan material keras di mulut muara ini telah berlangsung selama bertahun-tahun sehingga menuntut nelayan menyesuaikan jadwal melaut dengan pasang surut air laut.
Salah seorang nelayan setempat mengungkapkan rasa prihatinnya atas kondisi yang dihadapi para nelayan sehari-hari.
“Kami sedih, setiap mau keluar melaut itu seperti mau perang. Harus lihat pasang surut. Kalau salah perhitungan, perahu bisa kandas dan pecah kena tumpukan pasir dan batu. Padahal kami hanya ingin mencari nafkah untuk keluarga,” ujar seorang nelayan yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (19/9/2026).
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DKP) Abdya, Hamdani mengatakan, pemerintah daerah telah melakukan beberapa kali penanganan.
Langkah awal pengerukan kolam labuh dan mulut Muara Lhok Pawoh telah dialokasikan melalui Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2025. Selanjutnya, pada Agustus 2026, Panglima Laot bersama Kelompok Masyarakat Nelayan berupaya menyedot pasir menggunakan mesin pompa milik Dinas Pertanian Abdya. Namun, pengerjaan tersebut terkendala karena terdapat tumpukan pecahan karang keras di mulut muara.
Melihat kendala tersebut, Bupati Abdya memerintahkan Dinas PUPR mengerahkan alat berat yang lebih memadai guna mempercepat proses normalisasi dan pengerukan sedimen.
Selain pengerukan darurat, Pemkab Abdya juga menyiapkan penanganan jangka panjang. DPKP Abdya telah mengusulkan pembangunan lanjutan breakwater atau jetty dengan mengacu pada Detail Engineering Design (DED) yang disusun pada tahun 2018.
“Sedimentasi, pendangkalan, abrasi pantai, serta potensi banjir tetap berulang. Karena itu, kita upayakan pengusulan pembangunan lanjutan breakwater atau jetty,” ucap Hamdani.
Sementara itu, Panglima Laot Kabupaten Abdya, T. Indra Kusuma, mengimbau para nelayan yang melakukan penanganan secara swadaya untuk tetap menjaga kebersamaan.
“Kami berharap masyarakat nelayan tetap kompak dan mengedepankan kebersamaan. Dengan musyawarah dan mufakat, persoalan pendangkalan Muara Lhok Pawoh dapat segera tertangani dengan baik,” ungkap T. Indra Kusuma.
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Seorang pemuda, Husaini (26), meninggal dunia setelah sepeda motor Suzuki Satria…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Aceh (PA), Aiyub bin Abbas, menegaskan pentingnya…
Analisaaceh.com, Aceh Besar | Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Jantho bersama aparat penegak hukum…
Analisaaceh.com, Aceh Besar | Personel Detasemen Intelijen Kodam Iskandar Muda (Deninteldam IM) menemukan ladang ganja…
Analisaaceh.com, Blangpidie | Kepala Cabang Dinas Pendidikan Cabang (Kacabdisdik), Aceh Barat Daya (Abdya), Andri Nofidar…
Anlisaaceh.com, Blangpidie | Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Zaman Akli, menyerahkan "bungong jaroe" atau…
Komentar