Pidie Dianggap Mundur Selama 3 Tahun, ini Kata Mahasiswi di Jakarta

Susilawati, SE.
Susilawati, SE

Analisaaceh.com, Jakarta | Hampir tiga tahun Pemerintahan Kabupaten Pidie yang pimpin oleh Roni Ahmad S.E dan Fadhullah TM Daud S.T, dengan slogannya Gle, Blang dan Laot, saat menjadi ikon kampanye pada 2017 silam, kini mendapat sorotan yang serius dari berbagai kalangan terutama mahasiswa, paguyuban, ormas, OKP dan masyarakat Pidie baik di luar daerah maupun di daerah.

Salah satunya Susilawati, SE, seorang aktivis wanita yang berdarah Pidie yang juga tercatat sebagai mahasiswi pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta.

Dirinha menilai, Glee, Blang dan Laot, yang menjadi ikon kampanye mereka tiga tahun lalu gagal dalam memenuhi kampanyenya saat itu.

“Sejauh ini telah banyak kritikan dari kaum muda bahkan masyarakat atas perjalanan roda kepemimpinan Abusyik dan Fadhullah tak berjalan mulus seperti janji disaat kampanye 2017,” ujar Susilawati di Jakarta melalui rilisnya pada Rabu (17/6/2020).

Menurutnya, kesejahteraan seakan urung hadir selama pemerintahan ini. Tak adanya lapangan kerja, kelangkaan gas, pupuk, penguatan pangan, investasi yang tidak baik, komunikasi publik yang rusak total, birokrasi yang buruk sampai terjadinya beberapa pejabat lempar handuk (mengundurkan diri), menandakan hancurnya sistem birokrasi di Kabupaten Pidie saat ini.

“Harapan masyarakat menjadi sirna seperti tidak ada yang bisa diharapkan lagi oleh Abusyik dan Fadhullah TM Daud, ST, dan beberapa hal lainnya adalah bagian dari gagalnya kepemimpinan mereka selama ini,” ujarnya.

Belum lagi banyaknya masalah administrasi pemerintahan Pidie yang membuat malu daerah, mulai Stempel Gubernur yang ditanda tangani oleh Wakil Bupati Pidie dan masih banyak lagi hal yang membuat malu daerah.

“Terlihat dari beberapa kali statement pernyataan Abusyiek dimuka publik mengundang blunder dan juga tawa para elemen masyarakat Aceh hingga nasional yang menilai guyonan itu tak wajar seorang pemimpin,” ungkap Susi yang juga Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam.

Ia juga memperhatikan etika kepemimpinan Abusyik yang sangat tidak baik dalam pemerintahan, serta kurang harmonisnya hubungan antara Bupati Pidie Abusyiek dengan Wakilnya Fadhlullah TM Daud. ST, walau ini terjadi ada sebabnya.

“Ditambah lagi kurang bersahajanya Abusyik dalam menjalankan Protokoler pemerintahan serta tidak harmonisnya hubungan Bupati dengan Wakil Bupati menjadi keputus-asaan masyarakat pada pemerintah Pidie Meusigrak dengan Glee, Blang dan Laotnya,” sambung mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Paramida ini.

Dalam kesempatan ini, Susilawati menagih janji kampanye Abusyik dan Fadhlullah TM Daud yang belum tertunaikan secara optimal selama tiga tahun kepemimpinannya. Sebab kata Susi, jangan-jangan mereka berfikir selama ini tugas janji kampanye mereka sudah selesai dengan baik namun kenyataannya rusak dan tidak ada manfaatnya.

“Janji kampanye seolah hanya secuil coretan puisi yang didengungkan pada setiap tribun panggung kampanye disaat momentum Pilkada tiga tahun lalu. Setelah menuai tepuk tangan masyarakat serta usainya pilkada, dan mereka memimpin Pidie. Lantas narasi itu hilang begitu saja tanpa adanya implementasi yang jelas sedikitpun. Memimpin suatu daerah itu bukan seperti memimpin sebuah acara pentas drama komedi melankolis dan lawak, narasi dalam dialog alur ceritanya keren, menghibur, kemudian penonton tertawa, itu sudah cukup. Tapi yang di pimpin kali ini adalah sebuah daerah dalam kehidupan nyata. Tentunya menyangkut hajat masa depan serta keberlanjutan rakyat banyak. Dari segala aspek, termasuk kesejahteraan dan kemakmuran yang merata,” jelas Susi.

Selanjutnya, ia juga mengajak generasi muda Pidie untuk berkaca pada kondisi jalannya roda Pemerintahan yang gagal itu. Sebagai generasi muda Pidie, sambung Susi, sudah seharusnya saling merapatkan barisan, menyamakan pikiran untuk mengawal sisa masa jabatan Bupati Pidie dibawah kepemimpinan Abusyiek dan Fadhullah TM Daud.

Susi juga menyarankan agar di sisa pemerintahan ini memberikan solusi agar pemerintah harus transparansi terhadap masyarakat dan sinergi dengan legislatif agar pembangunan Pidie lebih baik.

“Selama ini pemuda berbeda pandangan. Tetapi kali ini saya mengajak pada pemuda untuk kembali bersatu demi merawat kepercayaan rakyat. Dalam kegelisahan ini, saya mengajak pemuda dan pemudi untuk kembali bersatu, mengalih pandangan dan membangun narasi serta aksi untuk perubahan Pidie yang lebih baik. Untuk teman-teman aktivis ban sigoem Pidie dan Banda Aceh, mari bersuara bersama jangan menjadi tikus dalam perahu, satu suara apapun kondisinya, tetap mencintai Pidie sebagai rumah kita Bersama”, Harap Susilawati mahasiswi Pascasarjana asal Pidie di Jakarta.