Rumah Gizi Gampong, Sarana Konsultasi Gizi Masyarakat Untuk Cegah Stunting

Foto : Humas Pemerintah Aceh

Analisaaceh.com | Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh menyebutkan bahwa Rumah Gizi Gampong (RGG) merupakan salah satu wadah dalam pencegahan stunting di Provinsi Aceh.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh, dr. Sulasmi, MHSM, Kamis (10/11/2022).

“Rumah Gizi Gampong merupakan salah satu wadah dimana di situ bisa mencegah Stunting yang disajikan dalam versi Aceh,” ujarnya.

RGG tersebut berada langsung di tengah-tengah masyarakat atau di desa yang dapat dimanfaatkan oleh para remaja putri, ibu hamil, ibu menyusui dan balita dalam mencegah stunting pada anak.

“Edukasi gizi, khusus gizi tidak ada yang lain kepada masyarakat desa tentang pentingnya gizi kepada empat kelompok sasaran seperti remaja putri, ibu hamil, ibu menyusui dan balita disitu tempat,” katanya.

“Selain konsultasi, ketahan pangan, seperti ada toga, ada budi daya dalam ember atau disebut budaber bisa menjadikan masyarakat tidak perlu membeli makanan lain, sudah tersedia di RGG ini dan cukup dikelola dengan baik,” sambung dr. Sulasmi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh, dr. Sulasmi, MSHM. Foto: Naszadayuna/analisaaceh.com

Sebagaimana diketahui Dinas Kesehatan Aceh menargetkan tiga sasaran untuk program intervensi spesifik penurunan stunting yaitu remaja putri, ibu hamil dan balita. Dari tiga sasaran ini terdapat 10 program penurunan stunting yang dilaksanakan baik sebelum hamil, saat hamil dan setelah lahir lahir yang dimulai dari pencegahan pada remaja putri terlebih dahulu.

“Ada tiga sasaran program penurunan stunting, yaitu pada remaja putri, ibu hamil dan juga kepada balita,” ujar Sulasmi, Jum’at (21/10/2022).

Untuk sepuluh program tersebut, jelas Sulasmi lagi, sasaran yang ditujukan kepada remaja putri yakni pemberian tablet darah (TTD) seminggu satu kali untuk satu tablet dan pemeriksaan kesehatan termasuk kadar hemagoblin pada siswa kelas tujuh dan kelas sepuluh.

“Kalau untuk ibu hamil itu pemeriksaan kehamilan dengan antenatal care sebanyak enam kali dan dua kali dengan dokter termasuk USG, selanjutnya juga memberikan TTD minimal 90 tablet setelah kehamilan, dan ibu hamil juga perlu makanan tambahan. Jadi kita berikan makanan tambahan KEK berupa protein hewani,” jelasnya.

Program yang dilakukan setelah lahir yakni pemantauan tumbuh kembang dengan penimbangan, pengukuran panjang badan balita dan pemantauan pertumbuhan balita di Posyandu.

“Program pemberian Asi ekskusif juga termasuk dari sejak lahir hingga umur enam bulan, program memberikan makanan tambahan protein hewani bagi anak 12 hingga 23 bulan berupa telur dan protein lainnya,” ungkap Sulasmi.

Kemudian, sambung Sulasmi program tata laksana balita dalam masalah gizi yang merujuk pada balita yang bermasalah dengan gizi untuk ke Puskesmas atau rumah sakit dan pemberian makanan tambahan balita di usia kurang dari enam bulan formula 75 dan 100 untuk balita kurang gizi.

“Selanjutnya peningkatan cakupan dan imunisasi baik pelayan rutin kampanye bulan imunisasi dasar dan tiga imunisasi tambahan, jadi bagi remaja putri juga jangan lupa minta tablet tambah darah di Pukesmas, dan ingat pentingnya imuninasi terhadap anak sehingga dapat mencegah terjadi stunting,” pungkas Sulasmi.

Editor : Nafrizal
Rubrik : KESEHATAN
Komentar
Artikulli paraprakPola Asuh dan Imunisasi Dalam Mencegah Stunting Pada Anak
Artikulli tjetërRGG Diharapkan Dapat Penuhi Gizi Masyarakat, Terutama Pencegahan Stunting