Selamat Milad Analisaaceh.com

Oleh: Alja Yusnadi

Revolusi Industri menyebabkan terjadinya berbagai perubahan dalam kehidupan manusia. Termasuk dalam hal pemberitaan. Di masa anak-anak sampai remaja, ada tiga jenis media yang menemai pertumbuhan saya.

Pertama, Televisi. Mulai dari model hitam-putih yang hanya dimiliki oleh beberapa rumah dalam satu gampong, sampai menjadi televisi berwarna, parabola, sampai sekarang siaran berbayar.

Kedua, Radio. Mulanya, media ini menjadi favorit. Saya mendengar mulai serial nini pelet yang disiarkan radio lokal: Nuzula karisma suara, RRI, sampai siaran BBC London. Kebiasaan ayah saya mendengar berita di Radio dan di Televisi, sedikit banyak mempengaruhi pengetahuan saya.

Ketiga, Media cetak. Saya ingat, beberapa media cetak yang pernah saya baca: Tabloid Kontras yang memberitakan kisah konflik Aceh, Majalah Bobo untuk anak-anak, Bola untuk olahraga, dan berbagai majalah segmentasi lainnya.

Lambat-laun, kedigdayaan ketiga media tersebut mulai tergerus oleh perkembangan teknologi. Baik televisi, radio dan media cetak sudah diganti dengan yang online.

Satu-persatu media cetak memperluas group bisnisnya untuk mendirikan media online atau akan tergerus dengan perubahan zaman.

***

Suatu hari, di penghujung 2018, saya membaca berita yang dirilis oleh salah satu media daring. Tampilan media tersebut tidak biasa, setidaknya tidak kalah dengan media sejenis di masa itu.

Namanya analisaaceh.com (untuk seterusnya saya sebut Analisaaceh). Awalnya, saya menduga media ini ada kaitannya dengan salah satu koran terbitan Medan: Harian Analisa. Saya mengenal wartawan yang menulis untuk media Analisa, saya konfirmasi, katanya bukan.

Beberapa bulan berikutnya, analisaaceh terus hadir memberitakan berbagai peristiwa aktual yang terjadi di Aceh. waktu itu, sedikitpun saya tidak berfikir media tersebut dikelola dari Aceh Selatan, saya membaca alamat redaksinya di Kedai Runding, Kluet Selatan. Saya pasti mengenal tempat itu, karena salah satu Kecamatan di daerah pemilihan saya.

Sebagai media baru, tidak mungkin analisaaceh memiliki jaringan wartawan hampir seluruh Aceh, tampilannyapun tidak kalah dengan media sejenis yang pernah saya baca.

Belakangan, saya baru tahu bahwa media tersebut milik salah satu kawan saya, namanya Rizha. Seorang anak muda, yang betah duduk berjam-jam di depan komputer. Ulet, tekun. Menguasai berbagai Bahasa program.

Saya mengenal Rizha sebagai ahli Teknologi Informasi (TI). Rupanya, berbekal pengalaman menjadi Tenaga TI di berbagai media, mendorong laki-laki lajang ini untuk mendirikan media sendiri.

Dengan menggandeng beberapa wartawan, Rizha mulai merintis kelahiran analisaaceh. Tidak mudah memang, dan juga tidak terlalu susah. Setelah bermain di Aceh Selatan selama kurang lebih 1,5 tahun, akhirnya Rizha memberanikan diri hijrah ke Banda Aceh untuk membesarkan media daring tersebut.

Pada salah satu kesempatan, saya menanyakan alasan Rizha merambah ke dunia media online. “Dulu, saya sudah pernah menjadi Blogger dan Youtuber, saya memiliki minat di bidang IT, terakhir, saya penasaran dengan media online,” begitu kurang-lebih jawaban Rizha.

Keahlian Rizha di bidang TI menjadi daya tarik tersendiri bagi keberlangsungan analisaaceh. Media tersebut tidak sepenuhnya bergantung dari iklan kerjasama atau advertorial dari Pemerintah atau perseorangan. Dengan keahliannya, Rizha juga mampu melihat peluang-peluang lain yang lebih strategis.

Sekarang, Analisaaceh sudah berusia 2 tahun. Rizha bersama timnya mengelola media tersebut dari Banda Aceh.

Setiap media pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Walau masih dua tahun, untuk urusan rating, Analisaaceh sudah mampu bersaing dengan media online lain di Aceh.

Rizha dan tim sudah memulai, untuk seterusnya yang dibutuhkan adalah konsistensi. Bagaimana mempertahankan Analisaaceh.com tetap mengudara bukanlah pekerjaan mudah. Kemampuan penyesuaian diri dengan perkembangan teknologi informasi adalah salah satu cara.

Itu saja tidak cukup. Media harus mampu berdiri diantara kepentingan ekonomi dan integritas. Analisaaceh harus mampu berdiri diantara keduanya, tanpa harus mengugurkan salah satunya. Dalam hal ini, kita harus belajar dari Jacob Oetama, sang pendiri KOMPAS. Media sebesar itu, bisa bertahan dibawah gempuran rezim otoriter.

Akhirnya, sebagai pembaca, saya mengucapkan selamat milad kepada Analisaaceh yang ke 2. Semoga, saya masih bisa mengucapkan selamat milad pada tahun-tahun berikutnya.

Editor : Nafrizal
Rubrik : NEWS
Advertisement