Categories: NEWS

SPBU di Abdya Aktifkan Lagi Sistem Barcode BBM

Analisaaceh.com, Blangpidie | Pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kembali diwajibkan menggunakan barcode. Kebijakan ini mulai diberlakukan sejak Jum’at (2/2/2026) lalu.

Sebelumnya, pemerintah memberhentikan sementara kewajiban scan barcode sejak akhir November 2025. Langkah darurat itu diambil lantaran sejumlah wilayah di Aceh dilanda bencana banjir bandang, tanah longsor, hingga tumbangnya tiang listrik yang melumpuhkan jaringan komunikasi.

Pantauan Analisaaceh.com, Senin (2/2/2026), SPBU Keude Paya Kecamatan Blangpidie, telah memberlakukan kembali pengisian BBM subsidi jenis Pertalite dan Solar menggunakan barcode bagi seluruh konsumen.

Pengawas SPBU Keude Paya, Agung Gunawan mengatakan, kebijakan penggunaan barcode merupakan ketentuan pemerintah yang berlaku di seluruh SPBU di Aceh. Menurutnya, aturan tersebut sempat dihentikan sementara pada akhir November 2025 karena bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menyebabkan terganggunya jaringan listrik dan telekomunikasi.

“Pada saat bencana, jaringan Telkom bermasalah dan mengalami gangguan, karena sistem barcode terhubung langsung dengan jaringan tersebut, sehingga proses pengisian BBM menjadi terhambat dan tidak terbaca di sistem,” kata Agung Gunawan saat ditemui Analisaaceh.com.

Agung menjelaskan bahwa pada masa itu kebutuhan BBM masyarakat meningkat, sementara jaringan belum stabil. Untuk memperlancar distribusi logistik dan bantuan bagi korban bencana, pengisian BBM subsidi akhirnya dilakukan secara manual.

“Sekarang jaringan sudah normal, sehingga pengisian BBM subsidi kembali diwajibkan menggunakan barcode. Namun, untuk wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah masih diberlakukan secara manual karena kondisi pascabencana belum sepenuhnya pulih,” terangnya.

Agung menegaskan, apabila jaringan Telkom kembali mengalami gangguan, maka pengisian BBM tidak dapat dilakukan meskipun stok BBM tersedia di SPBU. Hal tersebut disebabkan sistem otomatis akan terkunci apabila proses pemindaian barcode tidak berhasil.

Menurutnya, penerapan kembali barcode bertujuan untuk menjalankan kebijakan pemerintah dalam pemerataan distribusi BBM subsidi. Dengan sistem ini, penyaluran kuota dapat dikontrol agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

“Barcode BBM subsidi diberlakukan untuk pertalite dan solar. Setiap kendaraan memiliki batas kuota yang berbeda,” ujarnya.

Agung merincikan, pembatasan jatah harian tetap mengacu pada regulasi yang berlaku. Untuk BBM jenis solar, kendaraan roda enam atau lebih dibatasi maksimal 200 liter per hari. Sementara kendaraan roda empat plat hitam dibatasi maksimal 60 liter, dan plat kuning 80 liter per hari. Adapun untuk BBM pertalite, meskipun belum ada pembatasan ketar per jenis kendaraan, sistem membatasi pengisian maksimal 120 liter per hari.

Namun demikian, sebut Agung, sistem hanya mengizinkan pengisian BBM maksimal tiga kali dalam satu hari. Meski kuota masih tersedia, pengisian berulang kali tetap akan terbaca sistem dan berpotensi dianggap sebagai aktivitas pengalihan atau pelansiran BBM.

“Sistem akan membaca frekuensi pengisian. Dalam sehari maksimal tiga kali. Jika lebih dari itu, sistem otomatis menolak meski kuota literan masih tersedia,” ucap Agung.

Pihak SPBU menyarankan konsumen untuk melakukan pengisian secara penuh (full tank) dalam sekali transaksi. Hal ini guna menghindari kecurigaan sistem terhadap aktivitas pelansiran minyak.

“Kami menyarankan konsumen untuk mengisi BBM secara penuh atau full tangki. Jika pengisian dilakukan secara berulang kali dalam sehari, meskipun secara aturan dibolehkan, sistem akan mendeteksi dan menganggap adanya indikasi pelansir,” ungkap Agung Gunawan.

Di Kabupaten Abdya sendiri terdapat tiga SPBU, seluruhnya telah menerapkan kembali pengisian BBM subsidi menggunakan barcode. Ketentuan kuota dan batas pengisian tersebut berlaku seragam karena merupakan kebijakan nasional yang diterapkan di seluruh SPBU di Indonesia.

Ahlul Zikri

Komentar

Recent Posts

Warga Pidie Tewas dalam Insiden Pengibaran Bendera, Pemerintah Aceh Minta Penanganan Hukum

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Seorang warga Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, meninggal dunia…

2 hari ago

Kesiapan Menikah Jadi Perhatian, BKKBN Aceh Perkuat Program Keluarga

Analisaaceh.com, Banda Aceh | BKKBN Aceh terus mendorong penguatan pembangunan keluarga melalui sejumlah program prioritas,…

4 hari ago

Kabel Menjuntai di Perkantoran Abdya,Kadis Kominsa Abdya: Jika Tak Ditangani, Kami Ambil Sikap Tegas

Blangpidie - Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominsa) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengancam akan…

4 hari ago

Diduga Cabuli Dua Anak, Pria 59 Tahun Ditangkap di TPI Lampulo

Analisaaceh.com. Banda Aceh | Seorang pria berinisial NSR (59), warga Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh,…

4 hari ago

Tekanan Ekonomi hingga Bullying, FUAD UIN SUNA Bahas Ketahanan Mental Generasi Muda

Analisaaceh.com, Lhokseumawe | Tekanan ekonomi, dinamika politik, perundungan, hingga tantangan era digital menjadi sejumlah persoalan…

4 hari ago

Inflasi Aceh 5,05 Persen, Tertinggi di Sumatera pada Oktober 2026

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Provinsi Aceh mencatat inflasi tahunan tertinggi di wilayah Sumatera pada Oktober…

5 hari ago