Analisaaceh.com, Aceh Tengah | Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tengah pada akhir November 2025 lalu berdampak serius terhadap sektor pertanian, khususnya perkebunan kopi.
Data Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor mencatat, seluas 12.638 hektare lahan kopi di Aceh Tengah mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi tersebut.
Juru Bicara Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, menyampaikan bahwa berdasarkan Laporan Pantauan Data Penanggulangan Bencana Alam Hidrometeorologi Kabupaten Aceh Tengah per 2 Januari 2026 pukul 18.00 WIB, bencana banjir dan longsor telah berdampak pada 14 kecamatan dan 295 kampung.
Tercatat ada 58 titik pengungsian dengan total 7.899 jiwa mengungsi, termasuk 587 orang yang berasal dari luar Kabupaten Aceh Tengah.
“Jumlah warga terdampak secara keseluruhan mencapai 234.710 jiwa,” kata Murthalamuddin, Jum’at (9/1/2026).
Selanjutnya, sebanyak 24 orang dilaporkan meninggal dunia dan 4 orang masih dinyatakan hilang. Kelompok rentan yang terdampak meliputi 41 ibu hamil, 305 ibu melahirkan, 76 ibu menyusui, 184 balita, 94 bayi, serta 725 lansia.
Lebih lanjut, Murthalamuddin menyebutkan bahwa terdapat wilayah terisolir dengan jumlah masyarakat terdampak mencapai 11.657 jiwa yang tersebar di satu kecamatan dan 26 kampung.
“Kerusakan harta benda juga dilaporkan cukup signifikan, dengan 4.426 unit rumah mengalami kerusakan. Di sektor pertanian selain kopi, bencana turut merusak 4.100 hektare lahan cabai, 2.787 hektare sawah, serta 38,32 hektare area perikanan,” katanya.
Pada sektor infrastruktur, tercatat 306 ruas jalan, 179 titik jembatan, dan 130 jaringan irigasi mengalami kerusakan. Fasilitas umum yang terdampak meliputi 4 unit kantor, 124 rumah ibadah, 72 sekolah, 12 pondok pesantren, 8 puskesmas, 9 pustu, dan 81 polindes.
Selain itu, sebanyak 235 tiang listrik dilaporkan rusak dengan jaringan listrik terdampak di 56 desa. Kerusakan juga terjadi pada 101 unit sarana air bersih, gangguan akses telekomunikasi di 91 desa, terputusnya akses transportasi darat, serta kerusakan pada 78 objek wisata dan 65 unit fasilitas olahraga.




