Analisaaceh.com, Meulaboh | Bupati Aceh Barat Tarmizi menegaskan tidak akan mentolerir praktik permintaan daging meugang yang mengatasnamakan dirinya maupun jabatan pemerintahan. Ia bahkan mengungkap telah memecat seorang Kepala UPTD yang diduga meminta daging kepada pedagang dengan membawa nama Bupati.
Langkah ini diambil guna memastikan tradisi meugang benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan, terutama warga fakir miskin.
Pernyataan tersebut disampaikan Tarmizi melalui akun Facebook pribadinya, Tarmizi Atjeh, pada Minggu (24/5/2026).
Tarmizi mengungkapkan, praktik pembagian daging meugang yang tidak sesuai aturan masih kerap terjadi, di mana terdapat pihak-pihak yang mengantarkan daging kepada pejabat daerah, termasuk Bupati, Wakil Bupati, dan Sekretaris Daerah (Sekda). Bahkan, disebutkan pula ada oknum pejabat yang meminta jatah daging kepada pedagang dengan mengatasnamakan dirinya.
Ia mengaku telah mengambil tindakan tegas terhadap salah satu bawahannya yang terbukti melakukan pelanggaran tersebut.
“Biasanya saat hari meugang, ada yang mengantarkan daging untuk Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda masing-masing satu paha. Bahkan di pasar, ada Kepala UPTD yang meminta daging kepada para pedagang dengan mengatasnamakan Bupati. Kepala UPTD tersebut sudah saya pecat atau diberhentikan,” tulis Tarmizi dalam unggahannya
Tarmizi menegaskan, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dan akan ditindak tegas. Ia juga memperingatkan agar tidak ada lagi pihak yang menggunakan namanya untuk meminta daging meugang.
Tarmizi juga meminta masyarakat dan para pedagang di pasar untuk tidak melayani jika ada oknum yang membawa-bawa namanya demi mendapatkan daging gratis. Dengan nada geram, ia meminta warga untuk langsung menolak dengan tegas.
“Kalau ada orang yang mengatasnamakan Bupati untuk meminta-minta daging meugang, bersama dengan dagingnya itu sekalian dilemparkan ke jidatnya,” tegas Tarmizi.
Meski demikian, Tarmizi menyampaikan permohonan kepada para pejabat dan menegaskan kembali komitmennya menghentikan kebiasaan lama yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil tersebut.
Selian itu, ia juga mengingatkan agar distribusi daging meugang tidak diberikan kepada pejabat yang tidak berhak. Menurutnya, prioritas utama penyaluran daging meugang adalah kepada yang membutuhkan, khususnya warga yang secara ekonomi kurang mampu.
“Mohon maaf, saya sudah mengingatkan agar tidak memberikan daging meugang untuk para pejabat. Berikanlah daging meugang kepada yang berhak menerimanya, karena sebagian masyarakat ada yang tidak mampu membeli daging meugang,” jelasnya.

Tarmizi juga menginstruksikan seluruh pejabat di Aceh Barat, mula dari tingkat kabupaten hingga pemerintahan desa, untuk memastikan ketersediaan pangan bagi warga miskin selama hari sakral bagi masyarakat Aceh tersebut. Ia menekankan agar kelompok fakir miskin menjadi prioritas utama dalam pembagian daging meugang.
“Kepada seluruh pejabat Aceh Barat, termasuk Keuchik, pastikan di gampong masing-masing seluruh masyarakat dapat menikmati dan bisa makan daging meugang tanpa terkecuali, terutama bagi warga fakir miskin. Bagaimana caranya, mohon diperhatikan dan dipikirkan dengan baik,” pungkas Bupati Aceh Barat.
Dengan pernyataan ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menegaskan komitmennya untuk memastikan tradisi meugang tetap berjalan sesuai nilai kebersamaan dan tidak disalahgunakan oleh pihak tertentu.




