Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., MAP
Analisaaceh.com, BANDA ACEH | Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh menggandeng Dinas Pendidikan Aceh untuk memperkuat edukasi nilai-nilai syariat Islam di lingkungan sekolah sebagai bagian dari upaya pembinaan generasi muda yang berkarakter, bermoral, dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Kepala DSI Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., MAP, mengatakan kerja sama lintas sektor tersebut telah dibahas bersama Dinas Pendidikan Aceh dan akan ditindaklanjuti melalui program edukasi langsung ke sekolah-sekolah di berbagai daerah di Aceh.
Menurut Misran, sekolah memiliki posisi strategis dalam proses pembinaan generasi muda karena menjadi ruang interaksi utama bagi pelajar dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penyampaian nilai-nilai syariat Islam tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan keagamaan, tetapi juga perlu diperkuat dalam sistem pendidikan.
“Kami juga kemarin duduk dengan Kadis Pendidikan. Dia akan turun ke sekolah-sekolah memberikan edukasi yang sangat beradab, sangat bermoral,” kata Misran.
Ia menekankan bahwa pendekatan dalam memberikan edukasi kepada generasi muda harus menjadi perhatian utama. Menurutnya, nilai-nilai syariat Islam perlu disampaikan dengan cara yang santun agar dapat diterima dengan baik oleh anak-anak dan remaja.
Misran mengingatkan, pendekatan yang tidak tepat justru dapat menimbulkan jarak antara generasi muda dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Pembinaan, kata dia, tidak hanya soal penyampaian aturan, tetapi juga membangun pemahaman dan kesadaran.
“Kalau edukasi diberikan dengan beradab, kita akan melahirkan peradaban. Tapi kalau edukasi disampaikan dengan sesuatu yang anarkis, yang kasar, mungkin mereka akan menjauh,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa penguatan syariat Islam di kalangan generasi muda tidak hanya bergantung pada materi yang disampaikan, tetapi juga pada metode penyampaian yang digunakan. Pendekatan yang santun dinilai mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif dan berkelanjutan.
DSI Aceh menilai, pembinaan generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perkembangan zaman. Perubahan pola kehidupan, kemajuan teknologi, serta derasnya arus informasi turut memengaruhi cara berpikir dan perilaku anak muda.
Salah satu tantangan yang disoroti adalah pengaruh gaya hidup yang cenderung mengarah pada hedonisme. Kondisi tersebut membuat proses pembinaan tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan pendekatan yang berkesinambungan dan menyentuh berbagai aspek kehidupan remaja.
Dalam konteks tersebut, keterlibatan sektor pendidikan menjadi sangat penting. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan nilai.
Melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan Aceh, DSI berharap edukasi nilai-nilai syariat dapat terintegrasi dalam lingkungan sekolah sehingga pelajar dapat memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Misran menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak bisa dicapai melalui satu kegiatan atau program jangka pendek. Edukasi harus dilakukan secara terus-menerus agar nilai yang disampaikan benar-benar tertanam dalam diri generasi muda.
Ia menyebutkan, selama ini DSI juga telah menjalankan berbagai program pembinaan melalui masjid dan kegiatan keagamaan di masyarakat. Namun, sinergi dengan sektor pendidikan dinilai dapat memperluas jangkauan pembinaan.
Dengan demikian, pesan-pesan keislaman tidak hanya diterima di lingkungan rumah ibadah, tetapi juga diperkuat di sekolah dan dalam kehidupan sosial pelajar.
DSI tidak menempatkan program edukasi di sekolah sebagai satu-satunya strategi pembinaan. Menurut Misran, pembinaan generasi muda harus melibatkan berbagai lingkungan secara bersamaan, termasuk keluarga dan masyarakat.
Ia menilai, keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter anak. Nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dan masyarakat akan lebih mudah diterapkan apabila mendapat dukungan dari lingkungan keluarga.
Selain itu, peran masyarakat dan lembaga keagamaan juga dinilai penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang generasi muda.
Dalam pelaksanaannya, DSI Aceh akan mendorong agar edukasi yang diberikan di sekolah dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Hal ini dimaksudkan agar pelajar tidak hanya memahami nilai-nilai syariat secara teoritis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Misran menegaskan bahwa pendekatan yang beradab dan bermoral harus menjadi prinsip utama dalam setiap kegiatan pembinaan. Hal ini penting agar generasi muda tidak merasa tertekan, tetapi justru terdorong untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan.
Ia juga menilai bahwa pendekatan yang santun dapat menciptakan hubungan yang lebih dekat antara pendidik dan peserta didik, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
Dengan pendekatan tersebut, DSI berharap dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Misran menambahkan, kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Aceh merupakan langkah strategis untuk memastikan pembinaan generasi muda berjalan secara terarah dan terintegrasi.
Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pembinaan generasi muda yang semakin kompleks. Tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendiri dalam membentuk karakter generasi masa depan.
Ia berharap program edukasi yang akan dijalankan dapat menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam memperkuat nilai-nilai syariat Islam di kalangan pelajar.
Dengan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, hingga masyarakat, pembinaan generasi muda diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan menyeluruh.
DSI Aceh optimistis bahwa melalui pendekatan yang santun, berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi, nilai-nilai syariat Islam dapat tertanam secara kuat dalam diri generasi muda.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya membentuk individu yang taat secara agama, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang berakhlak mulia, memiliki kepedulian sosial, serta siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
“Kami juga kemarin duduk dengan Kadis Pendidikan. Dia akan turun ke sekolah-sekolah memberikan edukasi yang sangat beradab, sangat bermoral,” kata Misran.
“Kalau edukasi diberikan dengan beradab, kita akan melahirkan peradaban. Tapi kalau edukasi disampaikan dengan sesuatu yang anarkis, yang kasar, mungkin mereka akan menjauh,” ujarnya.
Analisaaceh.com, BANDA ACEH — Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh menegaskan pembinaan remaja tidak dapat bertumpu…
Analisaaceh.com, Lhokseumawe | UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe menggelar agenda pengembangan kelembagaan bertajuk Merawat dan Mengembangkan…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) menyerahkan infak senilai Rp10 juta kepada…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Universitas Syiah Kuala (USK) memberikan orientasi kepada 1.614 mahasiswa baru penerima…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Pengurus Besar Rabithah Thaliban Aceh (PB RTA) mendesak aparat penegak hukum…
Analisaaceh.com, Blangpidie | Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya)…
Komentar