Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., MAP
Analisaaceh.com, BANDA ACEH | Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh mendorong pengurus masjid di seluruh daerah menghadirkan ruang yang lebih ramah bagi generasi muda dengan menyediakan berbagai fasilitas pendukung, seperti area santai, kedai kopi, hingga sarana olahraga ringan, tanpa mengabaikan fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah.
Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., MAP, mengatakan pendekatan terhadap generasi muda perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman agar masjid tetap menjadi pusat aktivitas keagamaan yang diminati oleh kalangan remaja.
Menurut Misran, inovasi yang dilakukan pengurus masjid dapat menjadi daya tarik positif bagi anak muda selama tetap berada dalam koridor syariat Islam. Ia menilai, kehadiran fasilitas tambahan seperti ruang berkumpul yang nyaman justru dapat memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat.
“Yang penting jangan sampai mengganggu fungsi utama masjid. Justru bagaimana masjid menjadi tempat yang dirindukan oleh anak-anak muda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu konsep yang dapat diterapkan adalah menghadirkan kedai kopi di lingkungan masjid yang beroperasi di luar waktu salat dan ditutup ketika memasuki waktu Magrib. Pola tersebut dinilai dapat menjaga keseimbangan antara fungsi ibadah dan aktivitas sosial.
Menurutnya, kehadiran ruang santai yang terkelola dengan baik akan memberikan alternatif kegiatan positif bagi generasi muda, sekaligus mengurangi ketertarikan mereka terhadap aktivitas di luar yang kurang produktif.
Selain itu, DSI Aceh juga mendorong pengurus masjid menyediakan fasilitas olahraga ringan yang dapat dimanfaatkan remaja. Sarana tersebut dinilai mampu menarik minat anak muda untuk datang ke masjid sekaligus menjalankan aktivitas yang sehat dan positif.
Misran menegaskan, konsep tersebut bukan bertujuan mengubah fungsi masjid, melainkan memperluas perannya sebagai pusat pembinaan umat yang adaptif terhadap kebutuhan generasi muda.
Ia menilai langkah tersebut sejalan dengan semangat yang telah berkembang di sejumlah daerah, terutama melalui gerakan salat Subuh berjamaah yang melibatkan kalangan pemuda.
Menurutnya, berbagai inisiatif yang muncul dari komunitas remaja masjid menunjukkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar dalam menghidupkan kembali aktivitas di masjid.
Misran mengapresiasi munculnya komunitas remaja masjid di sejumlah daerah seperti Banda Aceh, Lhoksukon, dan Sigli. Kehadiran mereka dinilai tidak hanya meningkatkan partisipasi dalam ibadah berjamaah, tetapi juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.
Ia menyebut, sejumlah pengurus masjid kini mulai memberikan ruang dan kepercayaan kepada kalangan remaja untuk mengambil peran dalam pelaksanaan ibadah, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
“Jadi mana yang sudah bisa akan diberikan kesempatan,” kata Misran.
Menurutnya, kepercayaan tersebut penting untuk membangun rasa memiliki terhadap masjid di kalangan generasi muda. Ketika diberi ruang untuk berkontribusi, remaja akan lebih terdorong untuk aktif dan terlibat dalam kegiatan masjid.
Ia menjelaskan bahwa keberadaan organisasi Remaja Masjid (Remas) sejak awal memang ditujukan sebagai wadah untuk menjembatani kedekatan anak muda dengan masjid.
“Ada anak muda itu kan ada organisasi khusus, ada namanya remaja masjid. Ini sebenarnya dulu asalnya memang untuk menarik anak-anak muda yang cenderung jarang ke masjid,” jelasnya.
Misran menilai, perbedaan karakter antara generasi muda dan generasi sebelumnya merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, pengurus masjid perlu memahami dinamika tersebut agar pendekatan yang dilakukan tidak bersifat kaku.
Ia menekankan bahwa pendekatan yang lebih terbuka dan inklusif akan membuat masjid semakin relevan sebagai ruang pembinaan generasi muda. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat aktivitas yang mampu membangun karakter dan mempererat hubungan sosial.
Dalam pandangannya, menghadirkan suasana yang nyaman dan bersahabat di lingkungan masjid dapat menjadi langkah strategis untuk menarik minat remaja. Dengan demikian, mereka tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Selain itu, keberadaan aktivitas positif di masjid juga dinilai mampu menjadi benteng dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk dampak pergaulan bebas dan penyalahgunaan teknologi.
Misran menegaskan bahwa penguatan peran masjid dalam pembinaan generasi muda harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga dengan menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan anak muda.
Menurutnya, masjid memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pembinaan yang efektif apabila mampu mengakomodasi kebutuhan jamaah dari berbagai kalangan, termasuk generasi muda.
Ia juga mengingatkan bahwa semangat tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang memberikan kedudukan istimewa kepada pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid.
Dengan demikian, upaya menjadikan masjid sebagai ruang yang ramah bagi generasi muda tidak hanya memiliki nilai sosial, tetapi juga nilai spiritual yang kuat.
DSI Aceh berharap, melalui berbagai inovasi dan pendekatan yang dilakukan, masjid dapat kembali menjadi pusat aktivitas yang hidup dan diminati oleh semua kalangan, khususnya generasi muda.
Menurut Misran, revitalisasi fungsi masjid harus dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan antara nilai-nilai syariat dan kebutuhan masyarakat modern.
Ia optimistis, dengan sinergi antara pengurus masjid, masyarakat, dan pemerintah, peran masjid sebagai pusat pembinaan umat dapat terus diperkuat.
“Yang penting jangan sampai mengganggu fungsi utama masjid. Justru bagaimana masjid menjadi tempat yang dirindukan oleh anak-anak muda,” ujarnya.
“Jadi mana yang sudah bisa akan diberikan kesempatan,” kata Misran.
“Ada anak muda itu kan ada organisasi khusus, ada namanya remaja masjid. Ini sebenarnya dulu asalnya memang untuk menarik anak-anak muda yang cenderung jarang ke masjid,” jelasnya.
Analisaaceh.com, BANDA ACEH — Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh menegaskan pembinaan remaja tidak dapat bertumpu…
Analisaaceh.com, Lhokseumawe | UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe menggelar agenda pengembangan kelembagaan bertajuk Merawat dan Mengembangkan…
Analisaaceh.com, BANDA ACEH | Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh menggandeng Dinas Pendidikan Aceh untuk memperkuat…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) menyerahkan infak senilai Rp10 juta kepada…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Universitas Syiah Kuala (USK) memberikan orientasi kepada 1.614 mahasiswa baru penerima…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Pengurus Besar Rabithah Thaliban Aceh (PB RTA) mendesak aparat penegak hukum…
Komentar