Dr. Rizqi Wahyudi (Dok. Zanzibar/UINSUNA)
Analisaceh.com, Aceh Utara | Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Dr. Rizqi Wahyudi, mendorong Badan Reintegrasi Aceh (BRA) bertransformasi menjadi pusat kolaborasi pembangunan, bukan sekadar lembaga penyalur bantuan. Gagasan tersebut disampaikan dalam Talk Show Peutrang Mata yang digelar BRA Kabupaten Aceh Utara di Fora Kupi, Lhoksukon, Kamis (6/8/2026).
Menurut Rizqi, BRA memiliki posisi strategis untuk menghimpun berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, aktivis, perguruan tinggi, ulama, hingga TNI dan Polri dalam merumuskan program pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan perdamaian.
“BRA harus menjadi poros utama atau orkestrator yang mengintegrasikan seluruh potensi yang dimiliki berbagai pihak, bukan hanya berperan sebagai distributor bantuan,” katanya.
Ia menilai sinergi dengan perguruan tinggi menjadi salah satu peluang yang perlu diperkuat. Melalui kerja sama tersebut, BRA dapat memanfaatkan berbagai program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat untuk mendukung pembangunan serta pemberdayaan masyarakat pascakonflik.
Rizqi juga mengusulkan agar BRA memperluas kolaborasi dalam pemberdayaan ekonomi mantan kombatan melalui penguatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, langkah tersebut akan memberi dampak ekonomi yang lebih berkelanjutan dibandingkan bantuan yang bersifat sesaat.
Di bidang pendidikan, ia mendorong BRA menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga untuk menghadirkan program beasiswa khusus bagi anak syuhada dan anak mantan kombatan agar memperoleh akses pendidikan yang lebih luas.
Selain itu, Rizqi mengusulkan pembangunan museum konflik Aceh sebagai pusat edukasi sejarah, dokumentasi perdamaian, serta destinasi riset. Menurutnya, sejarah konflik Aceh memiliki daya tarik bagi akademisi dan peneliti dari luar daerah maupun luar negeri.
“Saat saya kuliah di Jakarta, banyak teman dari luar Aceh yang tertarik mengetahui sejarah konflik Aceh. Museum dapat menjadi ruang edukasi sekaligus memperkenalkan perjalanan perdamaian Aceh kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Ia juga mengajak BRA mulai menjajaki pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari badan usaha milik negara (BUMN) yang beroperasi di Aceh sebagai salah satu sumber dukungan bagi program reintegrasi dan pemberdayaan masyarakat.
Gagasan tersebut disampaikan dalam Talk Show Peutrang Mata bertema “Bangkitkan Sinergi Membangun Aceh Utara melalui Implementasi MoU Helsinki” yang menghadirkan berbagai unsur pemerintah, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, dan elemen perjuangan untuk membahas penguatan implementasi MoU Helsinki melalui kolaborasi lintas sektor.
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Festival Kuah Beulangong Universitas Syiah Kuala (USK) berlangsung meriah di pelataran…
Analisaaceh.com, Blangpidie | Antrean kendaraan pemburu solar bersubsidi kembali terlihat di sejumlah SPBU di Kabupaten…
Analisaaceh.com, Blangpidie | Petani di persawahan Cot Seutuy, Gampong Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Seorang pemuda, Husaini (26), meninggal dunia setelah sepeda motor Suzuki Satria…
Analisaaceh.com, Blangpidie | Nelayan Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng, Aceh Barat Daya (Abdya), harus bertaruh keselamatan…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Aceh (PA), Aiyub bin Abbas, menegaskan pentingnya…
Komentar