Categories: NEWS

HAkA Gandeng Daughters for Earth, Dorong Ekowisata Berbasis Komunitas di Abdya

Analisaaceh.com, Blangpidie | Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) bersama delegasi lembaga internasional Daughters for Earth mengunjungi Dusun Lhok Batee Intan, Gampong Padang, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Selasa (8/9/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memperkuat perlindungan alam berbasis komunitas sekaligus melihat secara langsung peran perempuan dalam menjaga kelestarian hutan di kawasan penyangga Ekosistem Leuser.

Tiga delegasi Daughters for Earth yang hadir yakni Zainab T. Salbi, warga negara Amerika Serikat, serta Manuela Mattalana Hoyos dan Carolina Garcia Arbelaez, warga negara Kolombia, berkesempatan menjelajahi bentang alam Aceh yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Rombongan menjelajahi bentang alam Aceh dengan berjalan kaki menyusuri kawasan di sekitar ekosistem Gunung Leuser. Mereka memantau kondisi tutupan hutan sekaligus berdiskusi dengan masyarakat mengenai tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan.

Dusun Lhok Batee Intan menjadi salah satu lokasi yang dinilai memiliki potensi dalam pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Wilayah tersebut juga menjadi salah satu gerbang penting menuju Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) tersebut.

Cofounder HAkA, Badrul Irfan mengatakan, kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan pengelolaan hutan yang dilakukan masyarakat Lhok Batee Intan kepada komunitas internasional.

Lebih lanjut, sebut Badrul, kunjungan mitra internasional ini merupakan upaya mendorong keterbukaan akses dan pengenalan potensi kawasan kelola LPHG Lhok Batee Intan agar lebih dikenal luas.

“Kita dapat kunjungan dari teman-teman Daughters for Earth. Mereka ingin melihat langsung bagaimana tata kelola hutan di Dusun Lhok Batee Intan, Gampong Padang,” kata Badrul.

Menurutnya, salah satu hal yang menarik perhatian delegasi adalah keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lingkungan, termasuk menjadi ranger atau petugas yang melakukan pemantauan kawasan.

“Hal yang sangat berkesan bagi mereka adalah keterlibatan aktif perempuan yang mampu menjadi ranger dan membuka akses untuk terlibat dalam pengelolaan lingkungan. Itu satu hal yang luar biasa bagi mereka,” ucapnya.

Selama menyusuri kawasan tersebut, katanya, para delegasi juga menikmati kondisi alam yang masih asri serta aliran sungai yang jernih.

“Rombongan juga sangat menikmati keasrian alam, kesegaran udara, dan kebersihan aliran sungai di sini,” sebut Badrul.

Badrul menambahkan, Gampong Padang merupakan satu dari 14 desa dampingan HAkA di Aceh. Selain menjaga kelestarian kawasan penyangga Leuser, pihaknya fokus mendorong kemandirian ekonomi warga melalui optimalisasi potensi pertanian ramah lingkungan dan ekowisata.

“Di sini terdapat komoditas unggulan seperti kopi dan durian. Tanaman vegetasi ini sangat baik untuk menjaga struktur tanah tanpa perlu memotong pohonnya. Tanaman-tanaman ini secara kehutanan juga bagus untuk melindungi tanah,” terangnya.

Ia menegaskan, pendampingan diarahkan agar kelestarian hutan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia mendorong agar masyarakat nantinya mampu mengelola dan mengembangkan potensi yang dimiliki secara mandiri.

“Fokus utama kami bagaimana dengan kondisi sekarang hutan tetap terjaga dan masyarakatnya bisa sejahtera. Kita berharap suatu saat mereka bisa mandiri. Potensi yang mereka punya bisa berkembang dan meningkatkan kesejahteraan. Karena HAkA tidak mungkin bisa mendampingi selamanya,” ujarnya.

Lebih lanjut, sebut Badrul, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat terdapat ribuan gampong di Aceh yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga hutan secara berkelanjutan.

“Kemandirian ini yang terutama akan kita dorong, bagaimana mereka bisa berkembang dan terus berkegiatan dengan menguatkan potensi yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Gampong (LPHG) Lhok Batee Intan, Ridhiya Asmadi mengatakan, LPHG Lhok Batee Intan telah berdiri sejak 2002. Namun, kegiatan patroli untuk menjaga kawasan hutan secara rutin baru dilakukan sekitar dua tahun terakhir.

Lebih lanjut, katanya, kegiatan patroli kawasan hutan bersama warga dan pendamping telah berjalan selama dua tahun terakhir sejak lembaga tersebut dibentuk. Ia menyebut, patroli dilakukan sebagai upaya menjaga kawasan hutan sekaligus mencegah berbagai aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

“Tujuan kita melakukan patroli untuk menjaga alam. Karena kalau kita mencintai dan menjaga alam, alam pasti akan menjaga kita,” ujarnya.

Ridhiya berharap kawasan yang menjadi penyangga Ekosistem Leuser tersebut tetap terbebas dari aktivitas yang dapat merusak lingkungan, termasuk perkebunan industri, pertambangan, dan perambahan hutan.

“Kami berharap kawasan penyangga Leuser ini terbebas dari masuknya industri skala besar, seperti perkebunan kelapa sawit, aktivitas pertambangan, maupun perambahan hutan. Kita ingin hutan ini terjaga dan jangan sampai dirusak oleh masyarakat itu sendiri,” ucapnya.

Ke depan, sebut Ridhiya, LPHG Lhok Batee Intan berkomitmen menginisiasi pengembangan kawasan ekowisata berbasis komoditas lokal, salah satunya melalui konsep wisata petik buah, guna menarik lebih banyak kunjungan wisatawan dan peneliti ke daerah tersebut.

“Kami berharap ke depan lebih banyak lagi kunjungan yang dilakukan di sini. Intinya kita ingin menunjukkan wisata yang berbasis ekosistem dan ekowisata,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua DPRK Abdya, Roni Guswandi, menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian para pegiat lingkungan internasional terhadap potensi alam dan upaya konservasi di Abdya.

“Kedatangan delegasi Daughters for Earth dan Yayasan HAKa ini menjadi motivasi besar bagi kami di pemerintah daerah. Ekosistem Leuser di Lhok Batee Intan adalah aset berharga yang harus dijaga bersama. Kami di legislatif siap mendukung regulasi serta alokasi kebijakan yang berpihak pada pelestarian hutan berbasis masyarakat,” pungkas Roni Guswandi.

Redaksi

Editor Analisaaceh.com

Komentar

Recent Posts

Polda Aceh Musnahkan Vape Etomidate, Sabu dan 49 Ribu Ekstasi

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Aceh memusnahkan ribuan barang bukti narkotika…

9 jam ago

Tol Padang Tiji-Seulimeum Ditutup Sementara Mulai Besok, Pengendara Dialihkan ke Saree

Analisaaceh.com, Banda Aceh | PT Hutama Karya (Persero) menutup sementara pengoperasian Jalan Tol Sigli-Banda Aceh…

9 jam ago

Lima Bandara Kembali Dibuka, Penerbangan Masih Menyesuaikan Kondisi Abu Vulkanik

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Lima bandara yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau…

9 jam ago

Tersangka Pencurian di Baitussalam Akui Bobol Dua Rumah di Kajhu

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Pengembangan kasus dugaan pencurian yang dilakukan Unit Reskrim Polsek Baitussalam mengungkap…

9 jam ago

Uji Kecepatan di Lampulo, Dua Motor Tabrakan, Satu Tewas

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Aksi menguji kecepatan sepeda motor berujung maut di Jalan TPI Lampulo,…

2 hari ago

Modus Pinjam Motor, Pria di Aceh Besar Gadaikan Scoopy Milik Teman

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Seorang pria berinisial AR (29) diamankan polisi setelah diduga menggelapkan Honda…

2 hari ago