Analisaaceh.com, Banda Aceh | Provinsi Aceh mencatat inflasi tahunan tertinggi di wilayah Sumatera pada Oktober 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Aceh mencapai 5,05 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y).
Angka tersebut menempatkan Aceh di posisi teratas dibandingkan provinsi lain di Sumatera. Sementara inflasi terendah di kawasan tersebut tercatat di Sumatera Selatan sebesar 2,87 persen.
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, memaparkan bahwa inflasi tahunan Aceh pada Oktober 2026 menunjukkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Secara nasional, seluruh 38 provinsi mengalami inflasi pada Oktober 2026. Dalam perbandingan antarprovinsi, Aceh mencatat inflasi sebesar 5,05 persen,”paparnya, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar di Aceh dengan andil sebesar 2,04 persen.
“Sejumlah komoditas yang mendorong inflasi tahunan tersebut meliputi beras, nasi dengan lauk, bensin, tomat, dan daging ayam ras,” sebutnya.
Sementara itu, beberapa komoditas memberikan pengaruh terhadap deflasi, di antaranya baju muslim wanita, cabai merah, telur ayam ras, bawang merah, serta ikan biji nangka atau ikan kuniran.
Selain secara tahunan, Aceh juga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,13 persen dibandingkan September 2026.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar, dengan kenaikan sebesar 0,77 persen dan andil inflasi 0,09 persen.
BPS mencatat terdapat lima daerah penghitungan inflasi di Aceh, yakni Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang.
Dari lima wilayah tersebut, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 7,11 persen. Sedangkan inflasi terendah tercatat di Meulaboh sebesar 3,54 persen.
Untuk inflasi bulanan, Aceh Tengah mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,01 persen. Sebaliknya, deflasi bulanan terdalam terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 0,32 persen.




