
Analisaaceh.com, Banda Aceh | BKKBN Aceh terus mendorong penguatan pembangunan keluarga melalui sejumlah program prioritas, mulai dari pencegahan stunting, pengasuhan anak, keterlibatan ayah dalam keluarga, hingga peningkatan kesejahteraan lanjut usia.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Perwakilan BKKBN Aceh, Ilya, dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Provinsi Aceh, di Aceh Besar, Selasa (3/11/2026).
Ilya menjelaskan, sejumlah program prioritas atau Quick Wins Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN meliputi Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Super Apps konsultasi keluarga, serta program Lansia Berdaya.
Program-program tersebut diarahkan untuk memperkuat pendampingan keluarga dalam berbagai tahapan kehidupan, mulai dari masa kehamilan, persalinan, pengasuhan anak hingga memasuki usia lanjut.
“Pembangunan keluarga bukan hanya berbicara tentang ibu dan anak, tetapi juga bagaimana peran ayah, termasuk dalam pengasuhan dan pembentukan karakter anak,” jelasnya.
Melalui program Genting, masyarakat, individu, hingga perusahaan juga didorong berpartisipasi membantu keluarga yang memiliki anak berisiko stunting. Dukungan dapat diberikan melalui berbagai bentuk bantuan, termasuk pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Ilya menyebutkan, pembangunan keluarga di Aceh menghadapi tantangan tersendiri karena jumlah penduduk mencapai sekitar 5,5 juta jiwa yang tersebar di 23 kabupaten/kota.
Karena itu, penguatan pendataan keluarga menjadi salah satu instrumen penting agar program pemerintah dapat menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Pendataan tersebut mencakup karakteristik keluarga, tingkat kemandirian, ketenteraman dan kebahagiaan keluarga, kepesertaan keluarga berencana, kondisi perumahan, sanitasi, kepemilikan aset, hingga keluarga yang berisiko mengalami stunting.
“Dengan data yang akurat, anggaran negara maupun dana desa yang diperuntukkan bagi pembangunan keluarga bisa lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Selain pendataan, BKKBN Aceh juga mendorong penguatan Kampung Keluarga Berkualitas, Sekolah Siaga Kependudukan, Rumah Data Kependudukan, serta berbagai kelompok kegiatan pembinaan keluarga di tingkat desa.
Di bidang keluarga berencana, pemerintah turut berupaya memperluas akses pelayanan kontrasepsi, terutama bagi masyarakat di wilayah terpencil dan sulit dijangkau. Alat dan obat kontrasepsi disediakan secara gratis sehingga masyarakat dapat memperoleh pelayanan tanpa terbebani biaya pengadaan kontrasepsi.
Sementara itu, tokoh masyarakat sekaligus akademisi, Zaelani, mengingatkan pentingnya kesiapan pasangan sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Menurutnya, terdapat tiga aspek utama yang harus dipersiapkan calon pasangan suami istri, yakni kemampuan finansial, kesiapan biologis atau kesehatan reproduksi, serta kematangan mental.
“Seorang yang akan menikah tidak cukup hanya memiliki kemampuan finansial, tetapi juga harus memiliki kemampuan biologis dan kesiapan mental. Ketiganya penting agar rumah tangga dapat berjalan dengan baik,” kata Zaelani.
Ia mengatakan, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua orang, melainkan ikatan yang membawa tanggung jawab besar dalam membangun keluarga.
Zaelani juga mengingatkan masyarakat untuk mematuhi ketentuan batas minimal usia perkawinan, yakni 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019.
Menurutnya, ketentuan tersebut berkaitan dengan kesiapan pasangan dalam menghadapi kehidupan rumah tangga, termasuk kehamilan, pengasuhan anak, dan penyelesaian persoalan keluarga.
Selain itu, ia menyoroti pengaruh media sosial terhadap kehidupan rumah tangga, terutama bagi pasangan muda. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan menyaring informasi agar konten yang tidak tepat tidak memengaruhi keharmonisan keluarga.
“Informasi yang baik dan yang tidak baik semuanya masuk. Karena itu, kita harus punya sensor dan filter. Jangan sampai informasi yang tidak tepat memengaruhi kehidupan rumah tangga,” katanya.



