
Analisaaceh.com, Blangpidie | Ketua STKIP Muhammadiyah Aceh Barat Daya (Abdya), Afdhal Jihad menilai program Doto Saweu Sikula atau dokter berkunjung ke sekolah yang digagas Pemerintah Kabupaten setempat merupakan langkah strategis. Program ini diyakini mampu memperkuat kualitas pendidikan melalui pendekatan kesehatan siswa secara langsung.
Menurut Afdhal, kesehatan fisik peserta didik memiliki hubungan langsung dengan kemampuan belajar dan capaian akademik di sekolah. Kondisi jasmani yang sehat menjadi fondasi utama agar siswa mampu menyerap materi pelajaran secara optimal.
“Memang ada korelasi yang sangat erat antara kesehatan jasmani dengan kemampuan anak dalam menangkap pembelajaran. Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang cerdas,” kata Afdhal Jihad, Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, siswa yang mengalami gangguan kesehatan, meski ringan, tetap berpotensi mengalami penurunan fokus belajar. Akibatnya, proses pembelajaran yang diberikan guru tidak akan terserap maksimal oleh peserta didik.
Karena itu, Afdhal menilai pemerintah perlu memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi sejak dini, termasuk pemenuhan gizi dan pencegahan stunting. Menurutnya, persoalan kesehatan anak tidak boleh dianggap sebagai isu terpisah dari dunia pendidikan.
Terkait program Doto Saweu Sikula, Afdhal menilai skema pelayanan kesehatan yang langsung menyasar sekolah merupakan langkah efektif untuk mempercepat pendataan kondisi kesehatan siswa.
“Program ini dinilai mampu memutus rantai birokrasi layanan kesehatan yang selama ini kerap lambat menjangkau peserta didik,” ucapnya.
Afdhal menyebutkan, kunjungan dokter ke sekolah dapat membantu Dinas Kesehatan maupun puskesmas memperoleh data yang lebih akurat terkait siswa yang membutuhkan penanganan cepat. Keluhan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, kurang gizi, hingga anemia kerap luput dari perhatian karena dianggap sebagai masalah kesehatan biasa.
“Kalau siswa tidak sehat, diajarkan oleh guru unggul sekalipun dan didukung fasilitas lengkap, hasilnya tetap tidak maksimal. Prestasi anak juga pasti terganggu,” ujarnya.
Meski demikian, Afdhal mengingatkan bahwa tantangan terbesar program ini bukan hanya pada pelaksanaan kunjungan, melainkan pada ketepatan sasaran dan tindak lanjut pasca-diagnosis. Menurutnya, efektivitas program akan terganggu apabila siswa yang justru membutuhkan pemeriksaan tidak hadir pada saat kunjungan dokter dan tidak terdata oleh sekolah.
Selain itu, ia juga menyoroti perlunya pengawasan terhadap lingkungan siswa, termasuk potensi penyalahgunaan obat-obatan atau zat tertentu di kalangan remaja. Sebab, sekolah tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan dukungan komite sekolah serta masyarakat.
Afdhal menegaskan, agar program ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, setiap kunjungan harus memiliki indikator keberhasilan yang terukur. Salah satunya adalah adanya tindak lanjut konkret bagi siswa yang terdeteksi membutuhkan penanganan medis.
“Setiap sekolah yang dikunjungi harus ada pembuktiannya. Kalau ada anak yang direkomendasikan untuk penanganan lebih lanjut, maka harus benar-benar mendapatkan pelayanan kesehatan,” katanya.
Afdhal berharap program Doto Saweu Sikula dapat membangun kesadaran kolektif di lingkungan sekolah bahwa kehadiran siswa bukan sekadar untuk absensi dan administrasi. Lebih dari itu, sekolah harus memastikan setiap anak datang dalam kondisi sehat dan siap belajar.
“Program Doto Saweu Sikula ini merupakan kebijakan positif yang berpotensi meningkatkan mutu layanan pendidikan sekaligus kualitas kesehatan siswa,” pungkas Afdhal Jihad.



