Categories: OPINI

Keyakinan & Kebenaran

Oleh Fakhrurrazi
Penulis catatan singkat kertas koyak, Dan Penikmat Geosastra, Sains Filsafat, & Sufisme

Analisaaceh.com – Dalam sains kebumian yaitu Ilmu Geofisika & Geologi yang kita pelajari saat ini merupakan dari pandangan Sekuler & Liberal. Karena tak dibahas materi tentang Tuhan.

Keilmuan itu kita dapatkan sekarang, sebagian besarnya berasal dari Barat. Barat memiliki sejarah pertentangan antara akal (pengetahuan) dan agama (Gereja Katolik Roma).

Para ilmuwan, seperti Galileo, mendapat tekanan dari Gereja karena pernyataannya dianggap melawan ajaran agama.

Akibatnya, akal di Barat berusaha melepaskan diri dari agama, yang akhirnya dimenangkan oleh akal (ilmu pengetahuan). Mulai dari situ, ilmu pengetahuan di Barat kehilangan agamanya, dan keduanya berjalan pada jalan yang terpisah.

Kemudian Barat melakukan ekspansi kolonialisme ke berbagai penjuru dunia. Hingga tersebarlah pandangan Barat tersebut ke wilayah-wilayah jajahannya tersebut, termasuk Indonesia.

Agama kemudian perlahan-lahan dilihat sebagai sesuatu yang terbelakang, yang tidak masuk akal, yang semestinya ditinggalkan. Agama adalah peninggalan masa lalu.

Dalam keilmuan itu kita tak membahas materi tentang peran Tuhan sebagai Pengendali Semesta Alam. Yang telah menjadikan hamparan alam raya penuh persamaan matematis dan hukum fisis.

Dengan faktor-faktor tersebut, contohnya manusia mampu merekayasa angin dengan menciptakan kapal Terbang. Karena pada hakekatnya Tuhan memang menundukkan alam raya ini kepada manusia.

Jika kita melihat ke dalam Islam, Sains dan agama berjalan beriringan, sebagaimana Ibnu Rusyd, filsuf muslim dari Spanyol, “agama dan sains adalah saudara sepersusuan.” Ibnu Rusyd merupakan komentator karya-karya Aristoteles, yang tulisannya tersebar ke Eropa dan turut serta memicu kebangkitan intelektual di sana, sampai memunculkan aliran tersendiri yang disebut Averroism (Ibnu Rusyd-isme).

Kembali lagi tentang sains kebumian, kita ummat islam dapat memahami peran Tuhan ketika membuka lembaran Quran, lalu dikaitkan dengan bukti-bukti ilmiah sebagai landasan penafsiran.

Munculnya Teori probabilitas beserta praktek dalam eksplorasi migas telah memberikan gambaran yakin atau tidak yakin keberhasilan menemukan cadangan minyak bumi & gas di alam. Bukan soal itu telah dianggap sebuah kebenaran, tapi pembuktian sebuah keyakinan melalui gambaran penampak seismik baik 2D & 3D. Kemudian para Insinyur melakukan proses pemboran lapisan bumi sampai kedalam sejauh ia yakin dan paham.

Namun terkadang, lapisan bumi pembuktian dari pemboran bisa melenceng & merubah model interpretasi penampang setiap lapisan.

Pada hakekatnya itulah bentuk ikhtiar sebagai insan ciptaan Tuhan, yang diberi kebebasan untuk mengeksplor alam semesta. Kita sadar bahwa kita terus membuktikan kebesaran Tuhan, bukan kebenaran. Itulah tujuan sains kebumian.

Karena kebenaran itu relatif terhadap waktu. Hari ini konsep migas itu benar berada di lapisan-lapisan tertentu, namun 20-30 tahun kedepan berubah, bisa saja pada lapisan-lapisan lain ditemukan.

Dimata eksplorer dikenal semboyan filosofi bahwa Migas itu berada di kepala manusia. Semboyan ini yang kita saksikan pada hari ini bahwa barat terus menerus update teknologi & pengetahuan demi eksplorasi kekayaan alam.

Bila tafsir alam ini sudah dianggap kebenaran mutlak, maka tak ada inovasi setiap zaman. Tak diperlukan lagi peran sains dan pengetahuan untuk manusia meraih kesejahteraan.

Bila praktik barat itu kita adopsi ke islam, ketika ilmuwan terus melakukan pembuktian, sehingga kita mengambil kesimpulan bahwa kebenaran hakiki dan kepastian hanya milik Tuhan.

Bahwa Kebenaran adalah jalan yang lurus yakni Jalan yang selalu kita ucap & mohon kepada Sang Pencipta Alam. Jalan itu pula yang termaktub dalam surat Pembukaan (Al Fatihah) yang setiap sholat diucapkan berulang-ulang, sebagai Jalan yang dijanjikan Tuhan. Jalan itu pula sebagai re-negosiasi kesepakatan kita dengan Tuhan sewaktu masih dalam kandungan, ikrar setia & suci pada ayat 162 surat Al An’am.

Akhirnya kita sadar bahwa kebenaran yang kita fikirkan itu belum tentu sesuatu yang benar. Kebenaran itu adalah jalan yang terus kita cari dan temukan, lalu terciptanya keyakinan. Namun sebagai ummat islam hidup tentu berawal dari keyakinan, yang terus dipupuk dengan pengetahuan & keimanan, kita yakin kepada Tuhan, maka itulah jalan kebenaran.

Editor: Riri Isthafa Najmi

Rizha

COE & Founder analisaaceh.COM

Komentar

Recent Posts

Diduga Gelapkan Sepmor Yamaha NMAX Milik Warga Kuala Batee, Pria Asal Babahrot Abdya Ditangkap Polisi di Nagan Raya

Analisaaceh.com, Blangpidie | Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Satreskrim Polres Aceh Barat Daya (Abdya) seorang…

22 jam ago

Kelas Darurat SDN 10 Linge Aceh Tengah Mulai Digunakan, Sebagian Siswa Tak Lagi Belajar di Tenda

Analisaaceh.com, Aceh Tengah | Sebagian siswa SD Negeri 10 Linge, Kabupaten Aceh Tengah, kini tidak…

23 jam ago

Bupati Safaruddin Sentil Kontribusi Dua Anggota DPRA Asal Abdya, Pastikan Tak Ada Pokir di APBK 2027

Analisaaceh.com, Blangpidie | Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Safaruddin, menegaskan komitmen pemerintah daerah mendorong pemerataan…

1 hari ago

Diduga Sopir Mengantuk, Pikap Tabrak Pembatas di Tol Sigli–Banda Aceh

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Sebuah mobil pikap Isuzu Traga bernomor polisi BL 8235 DN mengalami…

1 hari ago

Safaruddin Launching My-Tirta Abdya, Perumdam Klaim Pertama di Aceh Masuk Play Store

Analisaaceh.com, Blangpidie | Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Safaruddin melaunching aplikasi My-Tirta Abdya milik Perusahaan…

2 hari ago

Bupati Safaruddin: Perusahaan Tambang dan PMKS yang Abaikan CSR Akan Dibekukan Izin dan Diusir dari Abdya

Analisaaceh.com, Blangpidie | Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Safaruddin, mengeluarkan ultimatum keras kepada seluruh perusahaan…

3 hari ago