Komunikasi Efektif Salah Satu Strategi Promosi Kesehatan Terkait Bahaya Rokok Bagi Remaja

Safrida Hanum (Foto:ist)

Oleh: Safrida Hanum

“Provinsi Aceh memiliki tingkat perokok remaja yang tinggi, pada Tahun 2020 terdapat  28,6% perokok remaja di Aceh. Para remaja ini sebagian besar adalah pelajar baik di jenjang SMP, SMA bahkan ada yang di tingkat SD”.

Rokok telah menjadi masalah kesehatan di Indonesia sejak dahulu hingga sekarang. Kandungan zat beracun dalam rokok telah menyebabkan masalah kesehatan bagi banyak orang. Tidak hanya untuk perokok aktif saja bahkan juga membahayakan orang yang tidak merokok. TB Paru, Kanker Paru, Peradangan Kronis pada Saluran Pernapasan merupakan beberapa penyakit berbahaya yang disebabkan oleh rokok dari banyak penyakit berbahaya lainnya.

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi, penyakit yang ditimbulkan oleh rokok menjadikan beban negara semakin berat mengingat biaya kesehatan yang tinggi harus dikeluarkan oleh negara dan tidak sebanding dengan penerimaan cukai rokok. Saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar di dunia untuk perokok pada usia di atas 10 tahun setelah India dan China.

Pada Tahun 2021, diperkirakan produksi rokok di Indonesia mencapai 250 miliar hingga 350 miliar batang dengan total nilai sebesar Rp500 triliun. Suatu angka fantastis, dapat dibayangkan bagaimana besarnya efek yang ditimbulkan terhadap kesehatan rakyat Indonesia apalagi di tengah musim pandemi sekarang ini.

Aceh merupakan salah satu Provinsi dengan tingkat perokok remaja yang tinggi. Menurut data Riskesdas tahun 2018, perokok pada usia 10-18 tahun sebesar 9,1% dimana pada Tahun 2013 sebesar 7,2%.

Angka ini semakin meningkat dan terbukti berdasarkan data BPS bahwa pada Tahun 2020 terdapat  28,6% perokok remaja di Aceh. Para remaja ini sebagian besar adalah pelajar baik di jenjang SMP, SMA bahkan ada yang di tingkat SD.

Gambaran di atas membuktikan bahwa permasalahan rokok terutama pada remaja di Indonesia khususnya di Aceh harus mendapat penanganan segera. Harus dilakukan pencegahan agar tidak terjadi lost generation. Para remaja yang merupakan generasi muda harus tumbuh menjadi generasi yang sehat baik fisik, mental dan sosialnya.

Para remaja ini merupakan asset negara yang sangat penting. Oleh karenanya dibutuhkan suatu strategi promosi yang tepat sasaran yang  selaras  dengan pola pikir para remaja sehingga bisa mencegah remaja menjadi perokok serta menyadarkan remaja untuk berhenti merokok.

Strategi Promosi Kesehatan

Pemerintah Aceh telah mengeluarkan Qanun Nomor 4 Tahun 2020 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang mengatur tentang kawasan umum yang wajib bebas rokok. KTR yang dimaksud berupa fasilitas kesehatan, sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintah, tempat-tempat umum. Namun di lapangan masih ditemui orang-orang yang merokok di tempat-tempat yang termasuk Kawasan tanpa Rokok tersebut.

Kesadaran tentang bahaya rokok di masyarakat terutama pada remaja masih sangat rendah bahkan cenderung nihil. Gencarnya iklan rokok baik di media elektronik maupun baliho yang di pasang di tempat-tempat strategis telah membuat suatu keyakinan pada remaja bahwa merokok itu hebat dan membuat keren.

Salah satu strategi promosi kesehatan yang bisa dilakukan dalam mencegah dan mengurangi remaja merokok adalah dengan menyamakan gaya komunikasi dengan para remaja. Penyuluhan-penyuluhan tentang bahaya rokok yang selama ini dijalankan sering menggunakan bahasa yang menyudutkan para remaja sehingga remaja enggan mendengarnya.

Mereka merasa dihakimi dan disalahkan dengan perilaku mereka yang merokok. Gaya bahasa yang digunakan saat penyuluhan kesehatan tentang bahaya merokok pada remaja dianggap seram, berlebihan bahkan terkesan menakut-nakuti sehingga para remaja akan memberontak dengan cara tidak mau mendengarkan isi penyuluhan.

Komunikasi yang efektif antara para promotor kesehatan dengan para remaja sangat penting untuk dibangun. Selain dari metode penyuluhan maka metode mengajak remaja untuk melakukan aktivitas fisik yang mereka sukai sambil memasukkan pesan-pesan kesehatan tentang bahaya merokok akan lebih efektif.

Remaja harus dirangkul sehingga mereka tidak semakin menjauh. Membentuk klub remaja di sekolah-sekolah dimana para siswa diajak untuk melakukan hobi mereka baik olahraga maupun kesenian bisa dijadikan salah satu alternatif.

Dalam menjalankan klub ini, tentunya diperlukan kerjasama antara promotor kesehatan dengan guru. Kegiatan bisa berbentuk pertandingan olahraga antar kelas, pertunjukan seni, juga bisa dengan cara menonton video motivasi dari para perokok yang sudah sembuh dan berhenti merokok.

Pesan-pesan kesehatan yang disampaikan dengan bahasa yang ringan sambil melakukan aktivitas yang menyenangkan akan lebih masuk ke dalam pemikiran para siswa atau remaja sehingga bila disampaikan secara terus menerus dengan cara-cara yang disenangi akan membuat para remaja tahu kemudian sadar akan bahaya rokok dan pada akhirnya para remaja menjadi mau untuk berhenti merokok.

Proses dari sadar menjadi tahu dan pada akhirnya menjadi mau merubah perilaku dari merokok menjadi berhenti merokok tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan usaha yang tekun, waktu yang tidak singkat dan tekad yang kuat dari berbagai pihak terutama para promotor kesehatan dan para remaja.

Pada akhirnya diharapkan bisa terbentuk suatu pemberdayaan mandiri para remaja untuk berhenti merokok bagi yang sudah terlanjur merokok dan tidak coba-coba merokok bagi remaja yang belum pernah merokok. Generasi muda yang sehat, berakhlak, pintar akan membuat bangsa Indonesia pada umumnya dan Aceh pada khususnya menjadi semakin berkembang dan maju.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Editor : Nafrizal
Rubrik : OPINI
Berita sebelumyaPolisi Tangkap Pengedar Narkoba di Abdya, 10 Paket Sabu Diamankan
Berita berikutnyaCara Mudah Convert dan Download Lagu di Youtube MP3