NEWS Program Bangga Kencana Jadi Strategi BKKBN Aceh Tekan Angka Stunting

Program Bangga Kencana Jadi Strategi BKKBN Aceh Tekan Angka Stunting

Foto bersama narasumber dan peserta kegiatan, foto: naszadayuna/analisaaceh.com

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Aceh menggelar fasilitasi pelaksanaan sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) kepada masyarakat bersama mitra kerja Biro Perencanaan dan Keuangan (Birenkeu) di Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh, Kamis, (6/8/2025).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa Program Bangga Kencana tidak lagi berfokus pada pembatasan kelahiran semata, melainkan mendorong terwujudnya keluarga yang berkualitas melalui perencanaan kehidupan sejak sebelum kehamilan hingga memasuki usia lanjut.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, Safrina Salim, SKM, M.Kes, mengatakan Program Bangga Kencana mencakup seluruh siklus kehidupan, mulai dari masa kehamilan, bayi, anak, remaja, usia produktif hingga lansia.

“Program Bangga Kencana mengarah pada seluruh aspek kehidupan, mulai dari dalam kandungan hingga lansia. Tujuannya adalah mewujudkan keluarga yang berkualitas dan sejahtera,” ujar Safrina.

Menurutnya, salah satu tantangan yang masih dihadapi saat ini adalah penurunan angka stunting. Ia menjelaskan, stunting tidak hanya dipengaruhi oleh asupan gizi, tetapi juga pola asuh serta kesiapan pasangan dalam menghadapi kehamilan.

Karena itu, BKKBN terus mendorong berbagai program strategis, seperti Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang mengajak ayah lebih aktif dalam pengasuhan anak, termasuk mengantar anak ke sekolah dan berbagi peran bersama ibu dalam keluarga.

Selain itu, BKKBN juga mengembangkan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang diharapkan dapat menjadi contoh di Kota Banda Aceh dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting melalui kolaborasi berbagai pihak.

“Melalui program orang tua asuh, kita berharap semakin banyak keluarga yang mendapat pendampingan sehingga upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih optimal,” katanya.

Safrina juga menyoroti pentingnya pemberdayaan lansia melalui program Lansia Berdaya, agar para lanjut usia tetap produktif dan tidak bergantung sepenuhnya kepada anak-anaknya. Salah satu bentuk implementasinya adalah pengembangan desa ramah lansia.

Di sisi lain, ia menegaskan pentingnya pendataan keluarga sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan. Data tersebut dimanfaatkan untuk mengetahui kondisi keluarga, termasuk keberadaan ibu hamil, balita, hingga kelompok rentan melalui Rumah Data yang terdapat di Kampung Keluarga Berkualitas.

“Data keluarga sangat penting untuk mendukung perencanaan pembangunan dan menyongsong bonus demografi sehingga benar-benar menjadi peluang bagi Indonesia,” ujarnya.

Safrina menambahkan, pembangunan keluarga juga diarahkan untuk mendukung terwujudnya generasi unggul menuju Indonesia Emas. Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi kepada remaja agar terhindar dari pernikahan anak, seks pranikah, serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA).

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Tiara Sutari AR, S.STP., M.M, mengatakan keluarga memiliki peran utama dalam membentuk karakter dan kualitas generasi masa depan.

Menurutnya, keluarga perlu memperhatikan pengaturan jarak kelahiran anak, pendidikan, fungsi lingkungan keluarga, serta menanamkan nilai-nilai positif sejak usia dini.

“Anak yang sehat tumbuh dari ibu yang sehat. Ibu tidak harus sempurna, tetapi harus bahagia. Dari keluarga pula anak belajar menghormati lingkungan dan membangun karakter yang baik,” kata Tiara.

Artikulli paraprakKepala BPN Abdya: Sertifikat Tanah Wakaf Cegah Sengketa Aset Umat
Artikulli tjetërUSK Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Mubadala Energy