Refleksi HUT RI ke-77: Panglimo Rajo Lelo IV Dalam Perang Kelulum

Oleh: Yusnir, S. Pd.

Panglimo Rajo Lelo IV atau bernama asli Ibnu Wantaser lahir di Pung Besei (Kampung Sapik) Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Lelaki kelahiran 1864 ini adalah keturunan dari Wannamid bin Wan Andun dan Sanniati binti Barlam.

Beliau diangkat menjadi Panglima oleh Raja Kluet Kejeurun Mukmin (1913). Saat itulah namanya bergelar menjadi Panglimo Rajo Lelo IV. Wantaser diangkat menjadi Panglimo Rajo Lelo IV menggantikan abangnya, Abdul Malik, yaitu Panglimo Rajo Lelo III.

Semasa kecil, Panglima Rajo Lelo atau Wantaser telah diajarkan oleh ayahnya berbagai ilmu agama dan disiplin yang tinggi. Dia tumbuh menjadi pemuda yang gagah, berani, jujur dan ksatria.

Ketika Perang Aceh pecah (26 Maret 1873), secara defakto, seluruh wilayah Aceh dikuasai oleh Belanda. Ketika itulah rakyat didera konflik kehidupan teramat dahsyat. Kerja rodi atau kerja paksa adalah salah satu derita yang dirasakan rakyat. Dalam kondisi tersebut terjadilah sikap perlawanan dari rakyat Aceh, terutama yang mendiami wilayah Kluet.

Di Kampung Tinggi, Kluet Utara, sewaktu sedang berlangsungnya kerja rodi, warga bernama Ali Usuh tiba-tiba membacok seorang Letnan Marsose. Kejadian pembacokan di Lawe Sawah, Kluet Timur itu saat sedang adanya penagihan pajak oleh pihak belanda. Peristiwa ini dilakukan oleh seorang warga bernama Mat Sisir, terhadap komandan serdadu Belanda bernama Yanderhokf, berpangkat Letnan.

Derita yang dirasakan rakyat semakin bertambah sewaktu pembukaan jalan Paya Dapur menuju ke desa Lawe Sawah dan Kotafajar ke Menggamat. Rakyat dipaksa bekerja oleh Belanda berbulan-bulan. Melihat kejadian ini, rakyat Kluet bertambah benci terhadap Belanda sehingga terjadilah komplotan di bawah tanah, gerakan rakyat menentang kolonialis Belanda.

Perlawanan Rakyat Menetang Penjajah Belanda

Bermula dari pasukan Belanda telah menyeberangi sungai Kluet dari Gampong Pulo Kambing ke Gampong Durian Kawan, dan bermalam di tepian Mamplam Durian Kawan, dengan tujuan mereka mencari tempat persembunyian Teuku Cut Ali, seorang tokoh Kluet yg sangat menentang kehadiran Belanda di wilayah Kluet.

Mendengar kabar tersebut, pasukan Belanda telah berada di wilayah Durian Kawan maka secara sepontan pasukan Panglimo Rajo Lelo melakukan musyawarah kilat untuk menghadang pasukan Belanda. Tepatnya Rabu, 3 April 1926, atau 20 Ramadan 1346H, meletuslah Perang Kelulum di Kampung Sapik, Kecamatan Kluet Timur, di bawah pimpinan Panglimo Rajo Lelo IV.

Perjuangan rakyat Kluet di bawah pimpinan Rajo Lelo ketika itu berjumlah 24 orang, sedangkan dari pihak kolonial Belanda yang dipimpin Kapten J. Paris, berjumlah 23 Orang (Syafi’ie AS, 1988). Kapten Paris mati di tangan Panglimo Rajo Lelo IV bersama serdadunya.

Di pihak Panglimo Rajo Lelo IV, tercatat sebanyak 20 orang syahid dan 4 orang yang masih hidup, kemudian ditangkap Belanda dan dibuang ke Batavia selama 11 tahun.

Perang Kelulum di Kampung Sapik ini, bagi bangsa Belanda merupakan momen menyedihkan, karena Kapten J. Paris beserta pasukannya terbunuh oleh pejuang Kluet.

Kapten J. Paris

Kapten J. Paris lahir pada 27 Juni 1889 di Nieuwer Amstel. Pada tahun 1907 memasuki Akademi militer dengan hasil sangat baik dan diangkat menjadi Letnan Dua setelah tamat akademi militer. Kemudian Paris dikirim ke Aceh bergabung dalam tentara kerajaan Belanda untuk menaklukkan kerajaan Aceh.

Kala itu Oktober 1925, menjadi komandan Brigade 3 Infanteri dan dikirim ke Bakongan Aceh Selatan dengan tugas menumpas pejuang Aceh yang dipimpin T. Raja Angkasah. Pada 2 April 1926, Kapten Paris bersama pasukannya menuju Kampung Sapik, Kecamatan Kluet Timur Aceh Selatan untuk mengadakan operasi di daerah Kluet dengan Brigade Divisi 5 Marsose (Syafi’ie AS, 1988).

Tugas mereka mengamankan daerah Kluet yg dipimpin oleh Panglimo Rajo Lelo IV. Keesokan harinya, 3 April 1926, pecahlah perang Kelulum di Kampung Sapik, yang menewaskan Kapten Paris beserta serdadunya.

Menurut sumber cerita lisan dari orang tua di Kampung Sapik, Kapten J. Paris mempunyai ilmu kebal intan (tidak mempan dibacok ataupun ditembak) sehingga dalam pertempuran itu Panglimo Rajo Lelo IV harus mencari kelemahan ilmu hitam Kapten Paris, barulah ia tewas.

Setelah Kapten Paris tewas, seorang Marsose Jawa bernama Kromodikoro mengambil alih komando. Meski ia juga luka parah, ia berhasil menembak mati panglimo Rajo Lelo IV. Perang itu juga merupakan salah satu indikasi bahwa rakyat Kluet yang bersenjatakan pedang dan kelewang bisa bertarung melawan kafir Belanda yang bersenjatakan lebih modern.

Makam Panglima Raja Lelo

Panglimo Rajo Lelo IV bersama pasukannya dimakamkan di Padang Kelulum, Kampung Sapik. Peperangan itu sekaligus merupakan jawaban serta puncak pelampiasan terhadap orang Belanda yang pada waktu itu menginjak harkat dan martabat orang Kluet.

Perang Kelulum merupakan suatu pertanda bahwa sifat kepahlawanan orang Kluet sangat kental, jiwa dan semangat heroiknya sangat kuat dalam mengusir penjajahan Belanda.

Namun, Panglimo Rajo Lelo IV yang telah memimpin sebuah peperangan dan gigih berjuang bahkan membunuh serdadu Belanda tidak dijadikan sebagai pahlawan nasional sebagaimana pejuang Aceh lainnya.

Muhammad Said dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad, jilid II, halaman 464, pun tidak menyebutkan panglimo Rajo Lelo IV sebagai pemimpin pejuang yang melakukan serangan terhadap Belanda.

M. Junus Djamil dalam bukunya Gerak Kebangkitan Aceh, halaman 395, tidak menyebutkan Panglimo Rajo Lelo IV sebagai pemimpin peperangan yang menewaskan Kapten Paris.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa para pahlawannya.”

Editor : Nafrizal
Rubrik : NEWS
Komentar
Artikulli paraprakKetua DPRK Lhokseumawe Pimpin Sidang Paripurna Pidato Presiden HUT RI 2022
Artikulli tjetërBocah Terseret Ombak di Pantai Lhoknga Ditemukan Meninggal Dunia