Categories: NEWS

Tradisi Meugang di Aceh, Warisan Budaya Sarat Kebersamaan

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Tradisi Meugang kembali dirayakan masyarakat Aceh menjelang Ramadan. Pasar-pasar tradisional pun dipadati warga yang berburu daging untuk kebutuhan keluarga.

Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, Meugang merupakan warisan budaya yang sarat makna dan telah menjadi memori kolektif yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Berdasarkan catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, tradisi ini telah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh pada era kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607–1636 M). Pada masa itu, penyembelihan hewan dilakukan dalam jumlah besar, kemudian dagingnya dibagikan kepada rakyat sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur.

Seiring waktu, tradisi Meugang tidak lagi difasilitasi oleh kerajaan. Namun, tradisi ini tetap hidup dan dijaga oleh masyarakat Aceh, bahkan terus dirasakan hingga ke tanah rantau sebagai bagian dari identitas dan kebersamaan.

Rizki (29), warga Aceh yang kini bekerja di Malaysia, mengaku setiap menjelang Ramadan selalu teringat suasana Meugang di kampung halamannya.

“Kalau sudah dekat puasa, yang paling saya rindu itu suasana Meugang. Ramainya pasar, bau daging dimasak di rumah. Di sini memang ada beli daging juga, tapi rasanya beda karena tidak kumpul keluarga,” ujar Rizki melalui sambungan telepon kepada analisaaceh.com, Senin (16/2/2026).

Menurutnya, meski berada di luar negeri, ia dan beberapa teman sesama perantau Aceh tetap berusaha memasak daging menjelang Ramadan sebagai cara mengobati rindu kampung halaman.

Sementara itu di Banda Aceh, Rahma (45) mengatakan Meugang selalu menjadi momen penting bagi keluarganya.

“Dari kecil saya ikut orang tua ke pasar. Sekarang saya ajak anak-anak supaya mereka juga punya kenangan yang sama. Bukan soal banyaknya daging, tapi suasana dan kebersamaannya,” katanya.

Menurut Rahma, meski harga daging kerap mengalami kenaikan, ia tetap berusaha membeli dalam jumlah yang disesuaikan kemampuan.

“Yang penting ada. Supaya anak-anak tahu, sebelum puasa itu ada tradisi Meugang,” tambahnya.

Meugang dilaksanakan tiga kali dalam setahun, yakni menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Tradisi ini tak hanya menjadi penanda datangnya hari besar Islam, tetapi juga ruang mempererat silaturahmi dan berbagi dengan sesama.

Dari kampung hingga perantauan, Meugang tetap hidup sebagai pengikat identitas. Ia bukan sekadar tradisi memasak daging, melainkan memori yang menyatukan orang Aceh, di mana pun mereka berada.

Naszadayuna

Komentar

Recent Posts

Warga Pidie Tewas dalam Insiden Pengibaran Bendera, Pemerintah Aceh Minta Penanganan Hukum

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Seorang warga Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, meninggal dunia…

2 hari ago

Kesiapan Menikah Jadi Perhatian, BKKBN Aceh Perkuat Program Keluarga

Analisaaceh.com, Banda Aceh | BKKBN Aceh terus mendorong penguatan pembangunan keluarga melalui sejumlah program prioritas,…

4 hari ago

Kabel Menjuntai di Perkantoran Abdya,Kadis Kominsa Abdya: Jika Tak Ditangani, Kami Ambil Sikap Tegas

Blangpidie - Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominsa) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengancam akan…

4 hari ago

Diduga Cabuli Dua Anak, Pria 59 Tahun Ditangkap di TPI Lampulo

Analisaaceh.com. Banda Aceh | Seorang pria berinisial NSR (59), warga Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh,…

4 hari ago

Tekanan Ekonomi hingga Bullying, FUAD UIN SUNA Bahas Ketahanan Mental Generasi Muda

Analisaaceh.com, Lhokseumawe | Tekanan ekonomi, dinamika politik, perundungan, hingga tantangan era digital menjadi sejumlah persoalan…

4 hari ago

Inflasi Aceh 5,05 Persen, Tertinggi di Sumatera pada Oktober 2026

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Provinsi Aceh mencatat inflasi tahunan tertinggi di wilayah Sumatera pada Oktober…

5 hari ago