Categories: NEWS

Ziarah Di Makam Tanpa Nama, Doa Keluarga Korban Tsunami Aceh

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Angin laut berembus pelan di kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh. Di hadapan hamparan tanah luas tanpa nisan satu per satu, Reka berdiri diam.

Tak ada bunga mewah, tak ada batu nisan bertuliskan nama. Hanya doa yang berulang, lirih, dan ingatan yang tak pernah benar-benar pergi.

Hari itu, Reka warga Lamgugob mengajak suaminya berziarah ke makam massal korban tsunami. Bukan sekadar ritual tahunan, tapi perjalanan batin yang selalu membuka kembali luka lama.

“Suami saya tidak ada lagi sanak saudara. Sembilan orang keluarganya, termasuk ponakan, ayah, dan ibunya, semuanya tidak pernah ditemukan,” ujar Reka pelan, saat diwawancarai, Jum’at (26/12/2025).

Saat gelombang tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004, suaminya masih lajang. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya, keluarga, rumah, dan tempat pulang. Yang tersisa hanya dirinya sendiri dan trauma yang dipeluk diam-diam bertahun-tahun.

“Setelah tsunami itu, suami saya benar-benar sendiri. Rumahnya juga habis, tidak ada apa-apa lagi,” kata Reka.

Kesedihan itu bahkan ikut hadir pada hari yang seharusnya paling membahagiakan. Saat mereka menikah, tak satu pun keluarga dari pihak suami yang duduk di kursi undangan.

“Di hari nikah itu, suami saya sangat sedih. Karena di hari bahagia, tidak ada satu pun keluarganya yang datang. Semuanya sudah pergi,” tutur Reka, menunduk.

Makam massal Ulee Lheue menjadi saksi bisu ribuan kisah serupa. Di tempat inilah, banyak keluarga hanya bisa mengirim doa tanpa pernah tahu persis di mana orang-orang tercinta bersemayam. Tanpa nisan, tanpa nama hanya keyakinan bahwa mereka semua pernah ada, pernah hidup, dan pernah dicintai.

Bagi Reka, ziarah ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menjaga ingatan agar tidak terhapus oleh waktu.

“Saya berharap tsunami ini bisa kita ceritakan kepada anak cucu kita nanti. Supaya jadi pengalaman dan pelajaran,” ujarnya.

Ia mengakui, saat bencana itu terjadi, masyarakat Aceh nyaris tak memiliki pengetahuan tentang tsunami. Tidak tahu apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana datang.

“Dulu kita tidak punya pemahaman. Sekarang, pengalaman pahit ini harus jadi pengetahuan. Jangan sampai terulang tanpa kesiapsiagaan,” kata Reka.

Meski 21 berlalu, makam massal Ulee Lheue tetap menyimpan suara-suara yang tak terdengar. Tentang kehilangan, ketabahan, dan cinta yang bertahan melewati gelombang setinggi harapan.

Reka dan suaminya melangkah pergi dengan langkah pelan. Doa telah selesai, tapi ingatan akan selalu tinggal. Di tanah tanpa nama itu, mereka menitipkan bukan hanya duka melainkan juga pesan agar tragedi serupa tak lagi memakan generasi berikutnya.

Naszadayuna

Komentar

Recent Posts

Akmal Al-Qarasie Nahkodai BPC HIPMI Abdya

Analisaaceh.com, Blangpidie | Akmal Al-Qarasie M.Sos resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Badan Pengurus Cabang…

15 jam ago

Zaman Akli: HIPMI Kunci Pertumbuhan Wirausaha Muda Abdya

Analisaaceh.com, Blangpidie | Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Zaman Akli menyebutkan bahwa keberadaan HImpunan…

15 jam ago

MPR Dorong Pelonggaran Barcode BBM Selama Pemulihan Bencana

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani mendorong agar sistem…

15 jam ago

Roni Guswandi: HIPMI Abdya Harus Bangun Kolaborasi

Analisaaceh.com, Blangpidie | Mantan Ketua Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Aceh…

15 jam ago

HIPMI Abdya Diajak Manfaatkan Dana Rp20 M Industri Ayam

Analisaaceh.com, Blangpidie | Musyawarah Cabang (Muscab) IV Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia…

15 jam ago

Aceh Minta 500 Ribu Peserta BPJS Ditanggung APBN

Analisaaceh.com, Banda Aceh | Pemerintah Aceh mengusulkan agar sekitar 500 ribu kepesertaan BPJS Kesehatan dialihkan…

15 jam ago