Analisaaceh.com, Banda Aceh | Yayasan HAkA mencatat kehilangan tutupan hutan di Aceh sepanjang 2025 mencapai 39.687 hektare. Angka ini meningkat lebih dari 274 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 10.610 hektare.
Manager GIS Yayasan HAkA, Lukmanul Hakim, mengatakan kehilangan tutupan hutan pada 2025 tidak hanya dipicu aktivitas manusia, tetapi didominasi faktor alam.
“Sebagian besar kehilangan tutupan hutan tahun 2025 dipengaruhi faktor alami seperti longsor, banjir, dan pelebaran alur sungai,” ujarnya di Banda Aceh, Rabu, (25/2/2026).
Berdasarkan analisis HAkA, sekitar 24.372 hektare atau 61,5 persen kehilangan tutupan hutan disebabkan faktor alam, yang mayoritas terjadi pada November–Desember 2025 akibat bencana hidrometeorologis yang dipicu Siklon Senyar.
Sementara itu, faktor antropogenik tetap memberi kontribusi. Ekspansi perkebunan tercatat mencapai 13.000 hektare atau 32,8 persen. Disusul pembangunan jalan seluas 1.007 hektare (2,5 persen), pembukaan lahan pertambangan mineral 796 hektare (2 persen), serta penebangan selektif 428 hektare (1,1 persen).
“Dari sisi sebaran, sebanyak 28.012 hektare atau 71 persen kehilangan tutupan hutan terjadi di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Aceh, sedangkan 11.675 hektare atau 29 persen berada di luar KEL,”sebutnya.
Secara wilayah, lima kabupaten menyumbang sekitar 71 persen dari total kehilangan hutan pada 2025. Aceh Timur menjadi yang tertinggi dengan kehilangan 8.564 hektare, diikuti Aceh Tengah 6.910 hektare, Gayo Lues 6.773 hektare, Bener Meriah 3.482 hektare, dan Aceh Utara 2.448 hektare.
HAkA juga mencatat Aceh Selatan kembali menjadi wilayah dengan kehilangan tutupan hutan tertinggi akibat faktor antropogenik pada periode 2022 hingga 2025.
Jika dilihat dari fungsi kawasan, sekitar 80 persen kehilangan tutupan hutan terjadi di kawasan hutan. Total kehilangan akibat aktivitas manusia di kawasan hutan pada 2025 tercatat mencapai 8.325 hektare.
Selain itu, Suaka Margasatwa Rawa Singkil mengalami peningkatan kehilangan tutupan hutan sebesar 7,5 persen dibandingkan 2024 yang tercatat 425 hektare.
HAkA menilai tren peningkatan kehilangan hutan sebenarnya sudah terlihat sebelum bencana besar akhir tahun. Pemantauan Januari–September 2025 menunjukkan kehilangan di KEL Aceh telah meningkat dibanding total sepanjang 2024.
Dalam periode 2020–2026, HAkA juga mengidentifikasi dugaan pelanggaran kehutanan seperti illegal logging, perambahan kawasan, serta pembukaan akses jalan yang berpotensi memicu kerusakan lanjutan.
HAkA mengingatkan degradasi tutupan hutan dapat meningkatkan tekanan terhadap habitat satwa serta risiko banjir dan longsor di wilayah hilir.




