
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Organisasi kepemudaan Islam didorong mengambil peran lebih besar dalam membentuk generasi muda Aceh yang berakhlak, berintegritas, dan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri keislaman. Peran tersebut dinilai semakin penting di tengah derasnya arus informasi, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., saat menghadiri pelantikan Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Al Washliyah (PW GPA) Aceh periode 2025–2030 di Aula Asrama Haji Aceh, Banda Aceh, Jumat (17/7/2026).
Misran yang hadir mewakili Sekretaris Daerah Aceh menilai Gerakan Pemuda Al Washliyah memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah dalam memperkuat syiar Islam sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia di Aceh.
Menurutnya, pembangunan Aceh tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Peningkatan kualitas manusia yang memiliki akhlak, integritas, pengetahuan, serta komitmen terhadap nilai-nilai Islam juga harus berjalan beriringan.
Dalam konteks tersebut, organisasi kepemudaan Islam memiliki ruang yang besar untuk berkontribusi melalui pembinaan kader, pendidikan keagamaan, dakwah, pemberdayaan pemuda hingga berbagai kegiatan sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
“Pemuda merupakan aset terbesar daerah. Karena itu, organisasi kepemudaan harus menjadi wadah pembinaan karakter, kepemimpinan, dan pengabdian sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh,” ujar Misran.
Ia mengatakan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi memberikan banyak peluang untuk meningkatkan pengetahuan dan kreativitas, namun pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan terhadap pembentukan karakter dan kehidupan sosial.
Karena itu, keberadaan organisasi kepemudaan tidak seharusnya hanya terlihat ketika berlangsung kegiatan seremonial. Organisasi pemuda harus mampu menjadi ruang pembinaan yang berkelanjutan dan melahirkan kader-kader berkualitas yang siap memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Gerakan Pemuda Al Washliyah, menurut Misran, memiliki peran yang relevan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia di Aceh. Organisasi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, memiliki semangat dakwah dan peka terhadap berbagai persoalan sosial.
Pembinaan generasi muda juga dinilai memiliki kaitan erat dengan keberlanjutan pembangunan Aceh. Pemuda yang saat ini berada dalam berbagai organisasi nantinya akan menjadi bagian dari generasi yang melanjutkan kepemimpinan dan pembangunan daerah.
Atas dasar itu, penguatan karakter, kemampuan kepemimpinan, wawasan keagamaan serta kepedulian sosial perlu mendapat perhatian dalam setiap program kepemudaan.
Dinas Syariat Islam Aceh sebagai instansi yang memiliki tanggung jawab dalam penguatan pelaksanaan Syariat Islam terus membuka ruang kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan maupun organisasi kepemudaan Islam.
Sinergi tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pembinaan umat sekaligus memperkuat implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.
Misran berharap kepengurusan baru PW GPA Aceh periode 2025–2030 dapat menyusun program kerja yang tidak hanya bersifat internal organisasi, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Program tersebut dapat diarahkan pada pembinaan akhlak generasi muda, penguatan dakwah, pemberdayaan pemuda, pendidikan keagamaan hingga kegiatan sosial yang memberikan dampak nyata.
“Kami berharap Gerakan Pemuda Al Washliyah terus menjadi mitra strategis Pemerintah Aceh dalam membina generasi muda yang berakhlak, berintegritas, memiliki wawasan keislaman yang kuat, serta siap berkontribusi bagi kemajuan daerah,” katanya.
Selain memperkuat program internal, pengurus yang baru dilantik juga didorong membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, ulama, lembaga pendidikan hingga elemen masyarakat.
Menurut Misran, persoalan pembangunan umat saat ini semakin beragam sehingga tidak dapat ditangani oleh pemerintah ataupun satu organisasi secara sendiri-sendiri. Sinergi antarelemen menjadi penting agar program pembinaan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Kolaborasi tersebut juga diperlukan untuk memastikan pembinaan generasi muda tidak berjalan secara parsial. Pembentukan karakter, peningkatan kapasitas, pendidikan agama, kepemimpinan dan pemberdayaan ekonomi perlu saling mendukung agar generasi muda memiliki kesiapan menghadapi berbagai tantangan.
Pelantikan PW GPA Aceh periode 2025–2030 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran organisasi kepemudaan Islam dalam menjaga persatuan umat dan memperluas syiar Islam di tengah masyarakat.
Kepengurusan baru juga diharapkan mampu melahirkan kader dan calon pemimpin muda yang dapat menjadi teladan, baik dalam kehidupan beragama maupun dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Dinas Syariat Islam Aceh optimistis kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan Islam dapat semakin memperkuat upaya membangun generasi Aceh yang religius, berkarakter dan memiliki daya saing.
Penguatan sumber daya manusia tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan Aceh yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai salah satu fondasi kehidupan masyarakat.
Melalui keterlibatan aktif organisasi seperti Gerakan Pemuda Al Washliyah, pembinaan generasi muda diharapkan semakin luas dan berkelanjutan. Pemuda tidak hanya dipersiapkan menjadi penerus pembangunan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga syiar Islam, persatuan umat, serta nilai-nilai yang menjadi identitas masyarakat Aceh.






