Kopi Dapat Menyatukan Perbedaan

Dedi Ikhwani, S.P.

Ayo ngopi..!
Mari ngopi…!
Ngopi dulu…!

Kata-kata seperti ini sering terucap secara verbal baik dalam bentuk lisan maupun ajakan menggunakan perantara elektronik dalam hal ini adalah sebagai media komunikasi.

Namun ada juga ajakan “ngopi” dengan menggunakan bahasa non verbal seperti kode gerakan jari, gerakan kepala, gerakan tangan hingga suara goyangan bibir seperti sedang seruput.

Banyak orang menjuluki provinsi Aceh sebagai daerah sejuta warung kopi, bagaimana tidak hampir di setiap aktifitas masyarakat pasti berkaitan dengan “ngopi”. Bahkan bila ada kunjungan wisatawan hingga tamu penting pejabat tetap merasa belum puas bila tidak menikmati kopi.

Fakta lain bahwa, warung kopi memang sangat mudah ditemukan di Aceh mulai dari tampilan tradisional hingga berpoles gaya modern. Konsumen yang berkunjung juga memiliki latar belakang berbeda namun tetap menjunjung tinggi nilai keberagaman.

Kegiatan “ngopi” biasanya dilakukan secara berkelompok dengan keluarga, sahabat, organisasi, rekan kerja hingga mitra bisnis.

Pun demikian juga ada yang dilakukan secara sendiri dengan maksud untuk membuat tugas, baik itu siswa mahasiswa hingga karyawan, atau juga memang sebagai penikmat.

Manfaat “Ngopi

Warung kopi sesekali juga berfungsi sebagai tempat dakwah dengan kata lain diskusi keagamaan yang mengarah pada tanya jawab soal Muamalah, U’budiyah, Syariah, Munakahat dan kegiatan keagamaan lainnya.

Bahkan juga dapat memberikan peranan sosial sebagai penyejuk bila ada perselisihan dalam mencari jalan keluar.

Aktivitas sosial lainnya adalah sebagai tempat orang untuk memberikan sumbangan kepada masyarakat rentan hingga berbentuk donasi pada kegiatan-kegiatan amal baik lokal maupun internasional. Pertunjukan kegiatan seni budaya juga tidak ketinggalan dibeberapa warung kopi dengan tujuan hiburan dan kreatifitas.

Tidak hanya itu, warung kopi juga berperan aktif membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran. Sektor pariwisata juga sangat bersimbiosis mutualisme dengan hadirnya warung kopi.

Pada akhirnya penerimaan negara dalam bentuk pajak juga menjadi kontribusi besar warung kopi untuk bangsa.

Sisi Positif Kafein

Kopi dapat membuat Anda bersemangat karena itu adalah khasiat kafein pada otak. Apakah Anda termasuk orang yang memulai aktivitas dengan secangkir kopi? Anda tidak sendiri banyak orang yang membutuhkan kopi yang sarat kafein sebagai stimulan pagi hari.

Tidak hanya itu, kafein juga menghambat reseptor adenosin yang membuat Anda lebih berenergi serta merasa lebih bersemangat.

Beragam penelitian dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai manfaat kafein secara positif, yaitu:

1. Menekan resiko sakit jantung dan diabetes

Mengkonsumsi kopi dengan dengan kandungan kafein sewajarnya mampu memperkecil kemungkinan penyakit jantung dan diabetas. Hal ini berhubungan dengan kandungan asam klorogenat (chologenic acid) dalam kafein kopi.

2. Meningkatkan daya ingat dan kemampuan kognitif

Sebuah penelitian partisipan yang mengkonsumsi kafein pada pagi hari memiliki nilai yang lebih baik pada saat tes, dibandingkan partisipan yang tidak mengkonsumsi kopi. Disebut pula kopi dapat meningkatkan kemampuan kognitif yang menurun seiring pertambahan usia.

3. Mencegah gangguan penyakit kanker

Kandungan anti oksidan yang tinggi mencegah terjadinya kanker seperti pada terjadi pada usus besar. Kafein juga membantu meningkatkan pembakaran gula dalam tubuh dan diduga baik untuk membantu mengobati asam urat.

Penting dipahami juga mengkonsumsi kafein secara berlebih hingga 500mg (5-6 cangkir kopi) juga memberikan dampak negatif seperti susah tidur, osteoporosis, kerutan wajah, dada berdebar, gugup hingga insomnia. (Alodokter, Kemenkes RI).

Dosis kafein yang terkandung dalam satu gelas kopi hitam 8oz mengandung kafein 95-100mg, bila satu gelas espresso 30ml mengandung 47-75mg, latte ukuran 8oz sebanyak 63-175mg. Kafein yang terkandung dalam kopi Arabika lebih kecil dibandingkan kopi robusta.

Kultur “Ngopi” dan Kemudahan Pasokan

Menarik untuk dikupas bahwa banyak orang yang nongkrong di warung kopi belum tentu memesan minuman kopi atau berbahan dasar kopi seperti espresso, sanger, kopi hitam, es kopi, latte, moccachino dan lainnya.

Walaupun awalnya terucap kata “ngopi”, namun ada juga yang memesan minuman berbahan dasar teh, coklat, es cream, susu, jelly, hingga soda.

Salah satu parameter atau ukuran mengapa warung kopi banyak di Aceh adalah kemudahan dalam memperoleh bahan baku. Kopi sareng berbahan kopi robusta dipasok dari Lamno, Blangpidie, Meukek, Tangse hingga dataran tinggi Gayo.

Jenis kopi lain yang tidak kalah menarik adalah Arabika dengan hamparan indah di dataran tinggi Gayo yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Arabika Gayo menjadi primadona dunia karena mempunyai klaim organik bersertifikat yang dimiliki.

Citarasa yang tidak diragukan lagi, menjadikan kopi Arabika Gayo sebagai bumbu kopi dunia. Terdapat beberapa vegetasi tanaman seperti lamtoro, gamal, kaliandra, alpukat, terong belanda, kayu manis dan jeruk berfungsi sebagai naungan dan pembatas kebun.

Parameter lain adalah kultur masyarakat di Aceh yang ramah dan bersahaja. Ini terbukti dari keragaman pembahasan yang dilakukan terpecahkan secara demokrasi, santai dan penuh senyum hingga tawa.

Sisi lain kebiasaan pada saat membayar akan dilakukan oleh satu orang atau beberapa orang yang menyumbang dan jarang dilakukan sendiri-sendiri.

Secara implisit muncul ucapan bahwa kopi dapat menyatukan perbedaan. Paradigma sosial minum kopi ini mengandung makna positif. Pikiran yang awalnya kacau atau istilah sekarang sakit kepala akan menjadi tenang hingga urusan bisnis menjadi lancar.

Penulis merupakan tenaga pengajar Diploma III Program Studi Manajemen Agribisnis, Universitas Syiah Kuala serta Praktisi Kopi di Bener Meriah