Ilustrasi hamparan sawah warga di Beutong Ateuh yang mengering akibat krisis air menyusul rusaknya jaringan irigasi pasca bencana banjir dan longsor.
Analisaaceh.com, Suka Makmue | Hampir enam bulan berlalu sejak bencana longsor dan banjir menerjang Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya pada akhir November 2025. Namun hingga kini, kondisi sektor pertanian di wilayah tersebut masih lumpuh total.
Petani di empat Gampong di Kecamatan setempat dilaporkan belum bisa menggarap lahan sawah mereka. Hal ini disebabkan oleh hancurnya insfratruktur vital berupa saluran irigasi dan parit pertanian yang amblas akibat terjangan material bencana.
Salah seorang warga Beutong Ateuh, Saudah mengungkapkan bahwa ketiadaan air membuat ribuan meter lahan pertanian terbengkalai tanpa aliran air. Padahal, wilayah pedalaman ini memiliki karakteristik pertanian yang berbeda dengan daerah lain.
“Hingga saat ini kami tidak bisa menanam padi karena karena irigasi hancur dan parit juga ikut amblas akibat longsor dan banjir,” kata Saudah, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, para petani seharusnya petani sudah memulai masa tanam sejak Februari 2026 lalu. Namun, karena jaringan pengairan yang rusak parah tak kunjung diperbaiki, petani hanya bisa pasrah melihat lahan mereka mengering.
“Di Beutong Ateuh warga hanya setahun sekali menanam padi. Harusnya Februari kemarin kami sudah turun ke sawah, tapi terkendala air karena irigasi dan parit hancur,” ucapnya.
Lebih lanjut, kata Saudah, kondisi ini mulai berdampak serius pada ketahanan pangan pangan dan ekonomi warga. Masyarakat yang biasanya mengandalkan hasil panen sendiri untuk kebutuhan pokok, kini terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli beras di pasar.
“Sekarang kami harus beli beras, kalau dulu kami masih bisa makan dari beras hasil panen,” sebut Saudah.
Warga menilai kerusakan irigasi pascabencana belum mendapat perhatian serius, padahal sektor pertanian menjadi sumber utama penghidupan masyarakat Beutong Ateuh Banggalang.
Bahkan, keterlambatan penanganan infrastruktur pertanian ini dinilai mengancam keberlangsungan hidup masyarakat di empat desa. Warga khawatir jika perbaikan tidak segera dilakukan, mereka akan kehilangan momentum masa tanam yang hanya terjadi sekali dalam setahun.
Selain kehilangan pendapatan, gagal tanam juga dinilai dapat memperparah kondisi pangan keluarga di wilayah pedalaman tersebut.
Karena itu, masyarakat Beutong Ateuh mendesak pemerintah kabupaten Nagan Raya maupun pemerintah Aceh untuk segera melakukan langkah konkret. Sebab, perbaikan irigasi menjadi kebutuhan mendesak guna mencegah terjadinya krisis pangan lokal yang lebih parah di wilayah tersebut.
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Massa aksi dari Aliansi Mahasiswa Aceh masih bertahan di halaman Kantor…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Penyidik Unit Siber Polda Aceh menetapkan seorang pria berinisial J sebagai…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Aceh kembali menggelar aksi…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Dari total 14 kloter yang dijadwalkan berangkat tahun ini, tujuh kloter…
Analisaaceh.com, Blangpidie | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat Daya (Abdya) terus berupaya melahirkan generasi Qur'ani…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh tetap…
Komentar