Peringati Hari Air Sedunia, G-PAL Subulussalam Gelar Aksi di Lae Soraya

Analisaaceh.com, Subulussalam | Gerakan Pencinta Alam dan Lingkungan (G-PAL) Subulussalam mengadakan aksi kreatif di sungai Lae Soraya sebagai bagian dari peringatan Hari Air Sedunia pada Minggu (22/3/2020).

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai salah satu upaya kampanye yang disampaikan kepada masyarakat tentang pentingnya air sebagai salah satu sumber kehidupan.

Koordinator aksi, Beni Fahrijal mengatakan, kegiatan itu dilakukan oleh G-PAL untuk memberikan penyadartahuan kepada masyarakat bahwa air merupakan bagian sumber kehidupan bagi masyarakat.

“Terutama masyarakat di sekitaran sungai kecamatan Sultan Daulat,” ujarnya.

Selain itu, kampanye tersebut merupakan bagian dari kampanye kepada pemerintah Kota Subulussalam dan pemangku kebijakan lainnya akan pentingnya pengelolaan air yang baik dan berkelanjutan, khususnya di masa perubahan iklim di mana beberapa daerah sangat sering mengalami kekeringan.

“Kami menyampaikan kampanye ini juga untuk Pemerintah Kota dan pemangku kebijakan lainnya akan pentingnya pengelolaan air yang baik dan berkelanjutan, apa lagi di masa perubahan iklim ini banyak sekali daerah yang mengalami kekeringan,” jelas Beni.

Sementara itu Ketua G-PAL, Ari Syahputra menjelaskan bahwa kegiatan itu merupakan salah satu bentuk kekhawatiran terhadap pengelolaan air diambang perubahan iklim dunia. Hal ini senada sangat sejalan dengan tema Hari Air Sedunia 2020 yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu “Water and Climate Change” ataupun Air dan Perubahan Iklim. Perubahan Iklim akan berdampak sangat luas terhadap kehidupan masyarakat.

“Meningkatnya suhu akan merubah kualitas dan kuantitas air, dan ini akan berdampak terhadap kebutuhan hidup sehari-hari dari kebutuhan pribadi sampai mata pencaharian dari agrikultur dan pancingan ikan,” tuturnya.

Menurutnya, perlindungan air di masa perubahan iklim sangatlah penting. Manusia tidak bisa hidup tanpa air, kebutuhan sehari-hari berputar dengan ada atau tidak adanya air.

“Mayoritas masyarakat Subulussalam bergantung kepada sungai untuk air bersih, dan karena itu kita memilih untuk melakukan aksi di Lae Soraya. Sudah saatnya Pemerintah Kota Subulussalam mempertimbangkan perlindungan sungai yang lestari sebagai salah satu kebijakan pengelolaan air,” sebut Ari.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa beberapa Kabupaten dan Kota di provinsi Aceh dilanda kekeringan di awal tahun 2020, seperti kabupaten Aceh Besar. Kekeringan tersebut berdampak sangat negatif kepada masyarakat, dimana hasil pertanian mereka pada umumnya gagal panen.

“Dengan pengelolaan air yang lebih baik, insiden seperti ini bisa dimitigasi dan masyarakat umumnya tidak akan terlanda kekeringan dan kekurangan akses air bersih,” ucap Ari.

Aksi itu juga melibatkan masyarakat desa di sekitar Lae Soraya, yang hidupnya bergantung dari kelestarian sungai tersebut. Masyarakat bergantung dengan sungai seperti memancing ikan, sanitasi, kebutuhan air sehari-hari, dan akses transportasi.

“Kami sangat mendukung aksi ini. Kebutuhan air masyarakat berasal dari sungai ini. Apabila ada kekeringan, kami yang pertama merasakan dampak buruknya. Perlindungan air dan sumber air adalah hal yang wajib dilakukan bersama,” ucap Sumadi (konang) salah seorang tokoh masyarakat Desa Pasir Belo.

Komentar
Artikulli paraprakCegah Virus Corona, Masyarakat Aceh dalam Perantauan Dihimbau Tunda Pulang Kampung
Artikulli tjetërManfaatkan Social Distancing Untuk Lakukan Sensus Penduduk Online 2020