Pedagang ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujong Serangga, Susoh Kabupaten Abdya saat melayani masyarakat membeli ikan. Foto:Ahlul Zikri/Analisaaceh.com
Analisaaceh.com, Blangpidie | Pasokan ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengalami penurunan tajam dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut menyebabkan kelangkaan komoditas perikanan liat di pasar lok setempat sejak awal Agustus 2026.
Panglima Laot Kabupaten Abdya, T. Indra Kusuma atau yang akrab disapa Acek Muntir, membenarkan terjadinya kelangkaan hasil laut tersebut. Menurutnya, minimnya hasil tangkapan dirasakan nelayan dalam rentang waktu 1 hingga 8 Agustus 2026 akibat cuaca ekstrem yang melanda perairan setempat
“Iya benar, ada kelangkaan ikan sejak sepekan terakhir ini, mulai dari tanggal 1 sampai 8 Agustus 2026. Penyebab utamanya adalah cuaca ekstrem berupa angin badai di tengah laut, sehingga kapal-kapal nelayan terpaksa merapat dan berlindung ke pulau terdekat,” ujar Acek Muntir, Selasa (11/8/2026)
Meski sempat menghentikan aktivitas melaut akibat cuaca buruk, Acek Muntir menyebut pasokan ikan kini mulai berangsur pulih seiring dengan bertahapnya nelayan kembali melaut. Namun, hasil tangkapan belum sepenuhnya pulih.
Selain faktor alam, Acek Muntir membeberkan pemicu teknis lain yang menekan produktivitas nelayan lokal, yakni maraknya pemasangan rumpon liar oleh armada kapal luar daerah di perairan Abdya. Kapal-kapal berukuran besar yang berasal dari Jakarta, Sibolga, hingga Banda Aceh diketahui memasang rumpon hingga radius 300 mil dari bibir pantai.
Menurutnya, keberadaan rumpon dalam jumlah besar membuat ikan yang seharusnya masuk ke perairan Abdya lebih dahulu terkonsentrasi di sekitar rumpon tersebut dan ditangkap oleh kapal dari luar daerah.
“Rumpon-rumpon ini sudah seperti pagar di laut. Karena jumlahnya terlalu banyak, ikan yang seharusnya masuk ke perairan Abdya terkuras oleh boat dari luar daerah,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, kata Acek Muntir, hambatan operasional nelayan Abdya kian diperparah oleh ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi yang kian terbatas.
Selain itu, tambahnya, jumlah armada tangkap nelayan di Abdya terus bertambah setiap tahun. Namun, kondisi tersebut tidak diimbangi dengan penambahan kuota solar subsidi dari PT Pertamina.
“Kebutuhan BBM solar subsidi sangat terbatas, sementara jumlah boat nelayan terus bertambah setiap hari. Kondisi ini sangat mempengaruhi aktivitas nelayan sehari-hari dalam melaut,” ungkap Acek Muntir.
Ia berharap persoalan ketersediaan solar subsidi dapat menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait, sehingga nelayan lokal tidak kesulitan memenuhi kebutuhan bahan bakar untuk melaut.
Selain persoalan hasil tangkapan dan BBM, nelayan Abdya juga menghadapi keterbatasan fasilitas pelabuhan yang layak untuk bersandar.
Acek Muntir menilai infrastruktur pelabuhan di Abdya masih belum memadai jika dibandingkan dengan sejumlah kabupaten tetangga, salah satunya Aceh Selatan.
Ia berharap pemerintah dapat membangun pelabuhan sandar yang representatif, terutama di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujong Serangga, Susoh.
“Kami berharap ada pelabuhan yang layak sandar, salah satunya di kompleks TPI Susoh, seperti pelabuhan sandar yang ada di Aceh Selatan. Di sana, dalam satu kecamatan bahkan bisa memiliki dua pelabuhan sandar yang memadai dan layak. Sementara kita di Abdya, meski rajin membayar pajak boat setiap tahun, tetapi belum memiliki pelabuhan yang layak,” ucapnya.
Acek Muntir meminta Pemerintah Aceh, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, DPR RI, DPRA, Pertamina, serta Panglima Laot Aceh mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi nelayan Abdya.
Menurutnya, perhatian tersebut diperlukan, terutama untuk meningkatkan kelayakan infrastruktur pelabuhan dan memastikan ketersediaan BBM bagi armada nelayan.
“Kami berharap Pak Gubernur Aceh, DPR, Panglima Laot Aceh, dan DKP Aceh memberikan perhatian khusus bagi nelayan Abdya, terutama dalam percepatan pembangunan pelabuhan sandar di Ujong Serangga Susoh. Nelayan Abdya juga berhak sejahtera dan bahagia seperti nelayan di daerah lain di Aceh,” tutur Acek Muntir.
Analisaaceh.com, Blangpidie | Harga ayam di pasar tradisional Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), mengalami…
Analisaaceh.com, JAKARTA – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) memperkuat keandalan operasional pabrik dan jaringan…
Analisaaceh.com, Blangpidie | Harga cabai rawit di pasar tradisional Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya),…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Kepolisian Daerah (Polda) Aceh menangkap seorang kepala desa (keuchik) aktif berinisial…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Polda Aceh mengungkap skema bisnis peredaran narkotika jenis etomidate yang dijalankan…
Analisaaceh.com, Banda Aceh | Universitas Syiah Kuala (USK) resmi memulai babak baru bagi 8000-an mahasiswa…
Komentar