Kembali Singgung Referendum, Muhammad Nazar “Bangun Aceh dan Berikan Rakyatnya Hidup Tenang

0

Banda Aceh, Analisaaceh.com – Wakil Gubernur Aceh periode 2007-2012, saat ini Ketua Umum Partai SIRA saat di hubungi analisaaceh.com Jum’at 31/05/2019, lebih menginginkan agar semua pihak termasuk para tokoh dan apalagi pemerintah daerah untuk mengutamakan pembangunan Aceh yang dapat melahirkan kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan di seluruh Aceh dengan potensi yang ada. Termasuk di dalamnya kedamaian yang berkelanjutan ketimbang membangun isu-isu perlawanan yang merugikan.

Aceh dalam sejarahnya terlalu banyak konflik meskipun kemudian damai lagi. Namun damainya sering buyar di tengah jalan karena berbagai faktor kelemahan prilaku sosial politik lokal seperti mudah dijadikan kendaraan bagi pihak lain bahkan pihak musuh untuk menjadikan Aceh sebagai ladang konflik yang mengakar, penuh luka dan susah diobati.

Kita baru melewati masa perdamaian belum 15 tahun setelah perdamaian Helsinki. Dulu sebagian besar rakyat Aceh menyalahkan pemerintah RI dan dulu dari masa paska bergabungnya Aceh dalam negara baru RI hingga orde baru dan masa transisi reformasi memang benar kenyataannya Aceh tertindas secara sistimatis oleh pemerintah RI. Tetapi belakangan persoalan itu bergeser ke kelemahan di Aceh sendiri. Sehingga lagi-lagi Aceh tetap berpeluang dimanfaatkan orang lain untuk kepentingan sesaat, termasuk dalam isu Pilpres.

Karena itu menurut Nazar, mengangkat kembali isu referendum apalagi bukan karena basis ideologis dan bukan murni tujuan perjuangan adalah sesuatu yang akan menjatuhkan rakyat Aceh dalam nestapa baru dan sejarah konflik. Sama seperti kita membuang rakyat ke dalam sumur tua atau “mon tuha”, mereka rakyat Aceh menjadi korban sia sia. Mon tuha itu artinya nestapa konflik yang sangat dalam dan mengakar yang semestinya harus ditakuti karena dalam sejarah Aceh terlalu sering hal itu terjadi.

Dengan demikian tugas kita semua di Aceh yang paling utama adalah membangun Aceh dan rakyatnya, termasuk menyiapkan rakyat dan seluruh pemangku kepentingan untuk senantiasa siap menghadapi segala tantangan ke depan. Baik Indonesia itu tetap eksis atau malah jika bubar. Sebab di dunia ini hampir tidak ada negara yang abadi dan statis dari posisi semula. Diantaranya ada yang mengecil karena memisahkan diri atau merdeka sendiri, ada yang bertambah besar, ada yang bertahan dengan segala perubahan dan ada pula yang bubar serta tersisa sekedar negara induknya.

Dan yang paling penting dalam konteks kebiasaan historis yang pernah terjadi di Aceh adalah untuk masa sekarang. Apapun bentuk perjuangannya ya sterilkan dulu dari penyusupan musuh, jangan sampai ada orang lain yang berpura pura mengatakan ikut berjuang ternyata mereka adalah musuh. Akhirnya ya terus terjadi kaum pejuang “sipak u luwa” (pejuang di tendang keluar) dan “musuh sak lam lungkiek pha” (musuh masuk di bawah kaki kita).

Selain itu sebuah perjuangan itu bukan berinti pada simbol dan sampul, tapi isi atau subtansinya apa. Jangan sampai pula rakyat dibodoh-bodohi dengan kamuflase perjuangan tapi akhirnya yang tadinya berapi-api lalu menyerah. Begitu berhadapan dengan aturan hukum, berlomba-lomba lari, bahkan ada yang bikin paspor lari keluar negeri sambil menyatakan “Hana Roh Kee” (saya tidak ikutan), ujarnya.

Muhammad Nazar menambahkan, Saya dahulu ikut secara ideologis dan murni berjuang habis habisan untuk terjadinya referendum di Aceh bersama kawan kawan lainnya dalam SIRA. Meski kemudian hanya menghasilkan perdamaian dengan komitmen konstitusional pemberlakuan otonomi khusus, termasuk di dalamnya partai lokal.

Dalam proses-proses yang menegangkan banyak yang lari dan memihak lawan waktu itu. Sedangkan saya dan juga sebagian yang lain berkali kali masuk penjara hingga ke penjara di Jawa Timur. Sementara rumah orang tua saya juga dibakar. Apakah mereka yang sekarang ingin referendum sudah siap seperti itu ? Jadi jangan asal ngomong saja.

Sentra Informasi Referendum Aceh (SIRA) saat dalam proses perdamaian tidak minta apa-apa, tidak ada kompensasi kepada lembaga SIRA dalam bentuk apapun dan kami dahulu tidak minta itu. Karena menjaga kesucian perjuangan.

Lalu apa yang terjadi, ketika SIRA berhasil melahirkan Partai Lokal, SIRA kan mengalami hambatan dan intimidasi, sampai-sampai sebagian caleg dan pengurusnya diculik dan dikerasi secara fisik juga mental. Ini juga kan kelemahan sisi lain dari sebuah perjuangan Aceh, “Cah Lampoh ngen pula bak Kayee hingga sibu saban-saban tapi watee na hase meusaboh cabueng hanjeuet dipot Boh le syedara” (kita berkebun dan tanam pohon hingga tumbuh besar sama-sama, tapi setelah berhasil satu cabang pun tidak dikasih sama saudara). Sementara dengan orang yang pernah dimusuhi justru jadi andalan dan sak lam lungkiek pha (masuk di bawah kaki kita) curah Nazar mengisahkan. (fj/wen)