Yang Tertinggal di Langit Bonn

Kapan aku dan Torsten menjadi pasangan? Yang kuingat, kami sering bertukar cerita dan kemana-mana selalu berdua. Mungkin dia mulai menganggapku lebih dari teman kuliahnya ketika dia putus dari Katja untuk kesekian kalinya. Terakhir kali dia menyebut kata “berpasangan” dengan bentuk past tense, di hari itulah aku tahu, kami tidak lagi hanya sekadar bersahabat.

Dan, pernikahan yang batal? Itu adalah kejadian paling kejam dan memalukan dalam hidupku. Aku hampir kehilangan pegangan. Bagiku Torsten adalah penjelmaan dari seluruh imajinasiku tentang Tuan Sempurna untuk hidupku. Dia satu-satunya laki-laki yang bisa kuajak tertawa dan “gila” bersama. Sungguh manusia langka yang tak bisa kutemui di sembarang waktu. Aku sangat menikmati setiap kekonyolan dan kegilaan kami. Juga, saat jatuh dan bangun dalam kehidupan kami.

Dia ada saat aku kehilangan orangtua dan saat tesisku tertahan karena alasan yang tidak jelas. Juga, dia setia ketika kami lulus dan mencari pekerjaan kesana kemari. Ketika Torsten akhirnya melamarku di sebuah tempat rahasianya, aku sama sekali tidak kaget. Aku tahu, kami ditakdirkan bersama.

Tapi, semua itu segera berlalu. Torsten mengkhianatiku. Entah lebih menyakitkan karena ternyata dia berkhianat untuk cinta lamanya yang mungkin cinta sebenarnya untuknya? Kurasa kenyataan itulah yang membuat aku begitu patah hati dan memporakporandakan kepercayaan diriku.

Setelah tahu Torsten menikah, aku semakin kehilangan tujuan. Saat itulah, sebuah peristiwa menyedihkan berubah menjadi titik balik dalam hidupku. Kosku yang kutempati dengan seorang sahabat terbakar di musim panas delapan tahun lalu. Yang tersisa dari yang kami miliki hanya baju di tubuh dan selembar tiket perjalanan umrah di kantong sahabatku, seorang muslimah taat berkebangsaan Afrika. Mendengar kabar kebakaran itu, seluruh keluarga menyuruhnya kembali dan dia memberi tiket itu kepadaku. Aku, dengan perasaan tak pasti, menyanggupi perjalanan itu, meninggalkan Bonn dan tak pernah kembali.

Aku tidak pernah menemukan waktu untuk melamunkan sejarah patah hatiku di sini. Kantor ini selalu sibuk. Beberapa bulan sekali kami terbang untuk urusan bisnis atau sekadar liburan ke beberapa tempat. Dan, kali ini, dalam dingin malam, aku dan Ummi berada di dalam taksi, membelah jalanan kota Vatikan, melewati Colloseum dan Trevi Fountain.

Vatikan begitu magis. Kota dengan seribu rahasia itu dilingkari dengan tempat-tempat ibadah Katolik yang berumur ratusan tahun. Rombongan-rombongan ziarah datang dari berbagai negara. Mengunjungi Basilika Santo Petrus dan berbagai destinasi ibadah lainnya. Di suatu kesempatan, di sela-sela pertemuan bisnis Ummi, aku berjalan-jalan di sekitar hotel mencari udara segar dan minuman hangat. Aku berhenti di kafe beberapa puluh meter jarak dari hotel. Udara dingin menusuk tulang. Rasanya lebih dari bekunya Bonn di musim dingin. Ataukah karena hatiku yang kesepian?

Pada perjalanan kali ini, aku tidak hanya dengan Ummi. Alfa, anak angkat Ummi sekaligus penasehat keuangan, juga turut serta. Alfa tidaklah asing bagiku. Kami pernah sama-sama mengambil kursus Bahasa Arab bertahun lalu sebelum aku menetap bersama Ummi. Bukan sekali dua kali ini saja Ummi menjodohkan kami. Tapi, semalam, rasanya berbeda. Alfa melamarku. Memang tanpa batu safir atau batu tahun kelahiranku. Tapi, itu pun sudah demikian memaksa untukku berpikir. Belum lagi paginya, Ummi mengingatkanku akan satu hal yang sering kuabaikan. Tahun terus berganti, aku tidak mungkin selamanya merasa sakit. Tapi, bila hatiku tidak pernah kubuka, sampai kapanpun kecewa itu akan sulit pergi.

Alfa sudah menunggu jawabanku bukan setahun dua tahun. Dari sejak aku datang untuk umrah, dia juga menjadi teman sekaligus guruku. Dan, tadi malam, dia benar-benar sampai pada puncaknya. Sesungguhnya bukan dia yang memaksa, tapi perasaanku. Aku ingin melupakan Torsten. Aku harus. Sudah terlalu lama dan lihatlah, Torsten tidak pernah mencariku selama delapan tahun ini. Pasti kini dia sudah bahagia. Lalu, apalagi yang kutunggu? Apalagi yang bisa kuharapkan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, bukannya semakin memantapkanku, tetapi justru membuat semakin gelisah. Sesungguhnya aku menunggu isyarat untuk benar-benar mantap melupakan Torsten.

Dentingan koin yang jatuh di lantai ruangan membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahku. Sepasang mata tersenyum kepadaku. Aku membalas, lalu keluar kafe, kembali ke jalan. Tiba-tiba aku merasa bahuku disentuh seseorang dari belakang. Aku menoleh. Katja. Aku hampir tak mengenalinya dengan pakaian yang sangat tertutup, mirip misionaris.

Komentar
1
2
3
4
5
6
Artikulli paraprakLakukan 6 Rutinitas Sebelum Jam 10 Pagi untuk Meningkatkan Kesehatan
Artikulli tjetërKabar Duka, Kajari Simeulue Tutup Usia